Ada kesalahan di dalam gadget ini

Senin, 15 November 2010

BANGUNAN PERLINDUNGAN UNTUK LERENG MERAPI?

Letusan besar Gunung Merapi 5 Nopember 2010 lalu telah banyak menelan korban jiwa yang pada umumnya diakibatkan oleh awan panas “wedhus gembel”. Rumah-rumah penduduk tidak mampu lagi dijadikan sebagai tempat berlindung dan sebagian besar hancur karena hembusan awan panas yang konon mencapai kecepatan hingga 300km/jam. Disamping kecepatan tinggi, awan panas juga dapat bertemperatur sekitar 600 derajat celcius. Selain itu, ancaman timbunan material panas juga sering menimpa rumah-rumah yang dekat dengan puncak Merapi.

Cara yang dianggap paling tepat hingga kini untuk selamat dari amukan awan panas ini adalah tentu dengan menghindarinya. Tidak akan ada satupun mahluk hidup yang sanggup bertahan di suhu yang sangat tinggi tersebut bahkan untuk jangka waktu pendek. Ketika erupsi tahun 2006 lalu, bahkan bunker yang dibuat khusus untuk perlindungan terhadap bahaya Merapipun tetap memakan dua relawan yang terjebak atau “berlindung” di dalamnya. Jadi secara teori perlindungan bangunan terhadap awan panas dan longsoran material memang sulit dilakukan.

Namun demikian, bukan berarti tidak ada yang dapat dilakukan berkaitan dengan perlindungan di sekitar bahaya gunung berapi ini. Mengungsi adalah pilihan pertama yang harus dilakukan, akan tetapi bagi mereka yang tidak sempat harus mencari perlindungan agar dapat bertahan. Dan perlindungan tersebut tentu bangunan.

Terdapat tiga aspek utama yang akan dipertimbangkan untuk mendisain bangunan perlindungan penduduk disekitar Merapi yaitu, hembusan angin yang kuat, temperature tinggi, dan beban material volcanic. Untuk menghindari ketiga hal tersebut, strategi yang paling sederhana, namun tidak mudah dilakukan, adalah dengan membuat semacam lubang perlindungan “bunker” di bawah tanah. Bunker relative aman untuk serangan awan panas yang terjadi dalam waktu singkat. Kasus bunker tahun 2006 yang memakan korban jiwa adalah karena bungker tersebut secara langsung ditimbun material yang sangat panas dalam jangka waktu yang lama, sehingga ruangan akan berubah menjadi ‘oven’ bagi korban di dalamnya.

Alternatif kedua adalah dengan membangun bangunan yang kuat menahan angin, suhu dan beban berat tersebut. Dalam hal ini konstruksi beton bertulang sepenuhnya dari dinding hingga atap paling tepat. Material beton bertulang selain akan mampu menerima beban material di atasnya, hembusan angin dan suhu tinggi akan dapat diantisipasi dengan baik. Dalam hal kemampuan menahan radiasi atau konveksi panas, beton lebih baik ketimbang bahan bangunan lain karena therma lag yang tinggi. Kayu dan metal tidak direkomendasikan mengingat material tersebut mudah menghantarkan panas dan tidak tahan suhu tinggi.

Bangunan perlindungan tersebut dibutuhkan untuk setiap kelompok masyarakat atau warga, atau bahkan pada setiap rumah penduduk jika mungkin. Alternatif pertama dan kedua di atas tentu akan mahal dan tidak ekonomis, namun demikian bukan berarti tidak dapat dilaksanakan. Sumber daya pasir yang berlimpah adalah salah satu keuntungan yang telah disediakan oleh alam Merapi. Alam sepertinya memberikan solusinya sendiri, pasir Merapi yang berlimpah dan terkenal baik mutunya tersebut adalah sebagai salah satu jawaban material apa yang paling tepat digunakan di wilayah tersebut. Disamping itu konstruksi beton bertulang bukanlah barang baru buat masyarakat sekitar Merapi. Lagipula, harga sebuah keselamatan akan lebih dari segalanya.

Lalu bagaimana dengan rumah-rumah penduduk? Kita bahas nanti…

Sabtu, 13 November 2010

MENGAPA RUMAH JAWA BANYAK RUNTUH PADA GEMPA 2006 ?


Secara umum faktor penyebab banyaknya kegagalan rumah Jawa dapat dipengaruhi oleh: kedekatan pusat gempa, formasi geologi wilayah setempat, tingkat kepadatan penduduk yang tinggi, dan konstruksi yang tidak sempurna (Idham, N, 2010a et.al)

Pusat Gempa Berada Relatif Sangat Dekat dan Dangkal dengan Objek Rumah Jawa

Menurut sumber USGS, gempa 2006 mempunyai kekuatan 6,2 skala Ritcher dengan pusat gempa pada 7,96° LS, 110,46° BT dengan kedalaman 10 km. Pusat gempa terletak di darat tepatnya di muara Sungai Opak sekitar 20 km dari Yogyakarta dengan kedalaman yang dangkal. Ini berarti bahwa sumber gempa berada di lokasi rumah Jawa berada (Kabupaten Bantul DIY). Posisi epicenter ini sangat berpengaruh terhadap afek yang diakibatkan pada suatu wilayah. Kekuatan gempa dan efeknya terhadap bangunan akan kurang berarti jika pusat gempa jauh dari sumber energi. Beberapa saat setelah gempa bumi tersebut, sebenarnya telah diikuti oleh gempa lain seperti gempa 7,0 SR di selatan Provinsi Jawa Barat pada tanggal 2 September 2009 dengan jarak pusat gempa 195 km dari Jakarta dengan kedalaman 46,2 km atau di lautan Indonesia (USGS 2009a). Gempa tersebut terbukti 'hanya' menyebabkan 57 orang meninggal dunia dan 300 korban luka-luka serta sekitar 10.000 rumah rusak. Gempa ini juga dirasakan dari Yogyakarta dan Jawa Tengah tetapi tidak berpengaruh atau sedikit, jika ada, terhadap bangunan-bangunan di sana. Gempa bumi yang lain juga terjadi pada 13 November dengan kekuatan 5.4 SR 360 km dari Jakarta dengan kedalaman 41 km (USGS 2009b). Gempa terakhir ini sama sekali tidak memakan korban jiwa dan menimbulkan kerusakan bangunan. Berkaitan dengan pengaruh terhadap bangunan, skala MMI lebih berguna dalam mengukur dampak gempa pada karena berdasarkan pengaruh langsung di daerah tersebut. Jika gempa bumi 2006 Jawa telah VIII-IX, sedangkan September 2, 2009 Jawa Barat hanya gempa VI-VII MMI.

Kondisi Geologi dan Pengaruhnya terhadap Bangunan

Alih-alih menyebarkan ke situs sekitarnya dengan cara radial, gempa bumi 2006 Jawa memiliki pengaruh yang berbeda di beberapa wilayah berkaitan dengan kondisi geologi tanah setempat. Tanah lunak relatif mudah meneruskan dan menguatkan gelombang (S wave dan surface wave) dari pusat gempa. Mennurut MAE percepatan puncak horisontal di wilayah tersebut mencapai 0,20 - 0.34g dan pergerakan vertikal diperkirakan 0,18 ~ 0.30g yang dikategorikan sangat tinggi (Elnashai AS, et.al, 2007). Sebagai hasilnya, bangunan yang terletak di dekat garis sungai atau tanah basah akan terpengaruh lebih ketimbang di tempat lain. Dari data gempa 2006, walaupun relatif dekat daerah pusat gempa, Gunung Kidul mendapatkan efek relatif kecil karena tanahnya lebih kaku dari batu kapur. Di lain sisi, daerah yang lebih jauh seperti Kabupaten Klaten terdapat lebih banyak rumah yang runtuh karena terdiri dari sebagian besar tanah pertanian yang basah. Dengan demikian, sebagai konsekuensi dari lahan pertanian yang gembur, Bantul dan Klaten akan lebih terancam dari bencana gempa bumi dibandingkan dengan daerah sekitarnya. Daerah tanah gembur dan basah membentang dari Bantul ke Klaten ini secara geology dikenal sebagai garis cesar Opak.

Kepadatan Penduduk Sangat Tinggi

Pulau Jawa adalah wilayah berpenduduk terpadat di dunia dengan 979/km². Kabupaten Bantul di mana banyak rumah runtuh di gempa 2006, adalah salah satu di antaranya yang merupakan daerah terpadat di Jawa dengan populasi 831.955 226.777 yang tinggal di rumah di wilayah 506,85 km² atau 1641.4/km² penduduk dan 447,4 rumah di setiap km² (DEPKES 2007). Ketika gempa 2006 menggoncang, 148.440 dari 218.345 rumah (67,9%) di Bantul tidak dapat ditempati lagi atau rusak parah dan runtuh (BAPPENAS 2006).

Struktur Rumah yang Sangat Lemah dan dibangun Tanpa Pertimbangan terhadap Bahaya Gempa

Walaupun rumah Jawa tradisional asli dibangun dengan material kayu, namun pada kenyataannya akhir-akhir ini batubatalah material utama konstruksi bangunan. Menurut Boen (2006), rumah-rumah runtuh dari Jawa 2006 sebagian besar dibangun oleh batu bata baik dengan atau tanpa rangka beton bertulang. Pasangan bata yang lemah merupakan faktor utama penyebab runtuhnya bangunan sedangkan untuk bangunan yang lebih baru dengan rangka beton bertulang; detail hubungan yang tidak benar merupakan aspek paling banyak penyebab kegagalan struktural. Hal ini terutama dikarenakan karena kurangnya pertimbangan bahaya gempa sejak 1943 ketika gempa bumi besar untuk terakhir kalinya, sebelum itu terjadi lagi pada tahun 2006.

Gambar. Perubahan Struktur dan konstruksi Rumah Jawa dari Kayu ke Batubata

Bangunan dengan konstruksi dinding bata telah digunakan secara luas untuk rumah sejak Pulau Jawa diduduki Belanda di awal abad ke-17 hingga masa sekarang (Prijotomo, 1996). Bahkan untuk sebagian besar penduduk Jawa, rumah dinding bata telah digunakan sebagai simbol status sosial keluarga pemilik (Koentjaraningrat, 1984). Sayangnya, konsep baru yang dibawa Belanda yang memang tidak berpengalaman sama sekali terhadap gempa itu, telah diikuti tanpa pertimbangan bahaya gempa. Selanjutnya, keterbatasan ekonomi masyarakat dan kurangnya kesadaran bagaimana pembangunan yang tepat juga telah berkontribusi terhadap penyebab lemahnya konstrukci pembangunan rumah. Konstruksi yang kurang tepat tersebut sayangnya menyebabkan hilangnya begitu banyak nyawa dan materi pada gempa 2006 lalu.

Berdasarkan Paper:


Idham, N, Mohd, M and Numan, I (2010a) ”Why The Javanese Houses Have Failed In The 2006 Earthquake”, in proceeding of the International Conference on Sustainable Built Environment (ICSBE 2010) pp.121-128. Faculty of Civil Engineering and Planning, Islamic University of Indonesia, August 2010.

Jumat, 05 November 2010

MERAPI ITU SEMAKIN TIDAK RAMAH KINI

Saya hanya bisa terdiam dan tidak dapat berbuat apa-apa ketika mendengar Gunung Merapi benar-benar semakin mengganas. 5 November 2010 hari Jum’at dini hari di Turkey atau jam 5 pagi WIB saya mendapat kabar dari istri saya yang masih di Jalan Kaliurang km 13 di Yogya bahwa rumah kami sudah tidak dapat dihuni lagi, lumpur vulkanik di mana-mana memenuhi halaman dan jalan di depan, udara dipenuhi debu dan sangat tercium bau belerang, jarak pandang hampir nol. Istri dan anak-anak harus mau atau tidak terpaksa mengungsi seperti pengungsi lain ke bawah ke tempat yang lebih aman. Saya hanya bisa mendukung mereka dari jauh.

Bencana ini benar-benar di luar perkiraan kami. Merapi yang dulu sangat bersahabat dan bagian dari hidup kami, kini seolah berubah menjadi monster yang mengerikan. Ratusan korban meninggal dan ratusan bahkan ribuan lainnya menderita, ribuan binatang mati, ribuan hektar tanaman kering bagai wilayah tak berpenghuni. Gunung itu seolah bukan lagi dari bagian hidup kami, tetapi berbalik memusuhi dan menyerang kami dengan terang-terangan. Entah, dosa apa yang kami sandang, kesalahan apa yang telah kami perbuat, yang jelas alam kami mulai tidak lagi bersahabat kini.

Di balik bencana ini, kami masih tetap harus bersyukur, masih tetap dalam lindungan Tuhan YME dibanding mereka yang malang tak tertolong lagi. Di situasi seperti ini juga kita benar-benar dapat melihat dengan jelas siapa malaekat penolong yang sebenar-benarnya. Ratusan relawan baik sipil ataupun militer mempertaruhkan nyawanya sendiri menolong para korban baik yang masih hidup atau telah meninggal dihembus awan panas merapi itu. Ya…sudah seharusnya memang, kita ini saling membantu, tanpa harus menunggu otoritas tertentu. Penduduk yang berjumlah besar ini tentu akan dapat menyelesaikan permasalah sebesar apapun jika kita saling membantu, saling bergandengan tangan dengan ikhlas. Sudah waktunya pula kita lepas embel-embel fanatisme organisasi, politik bahkan agama sekalipun demi rasa kemanusiaan yang mungkin selama ini telah lepas dari hati nurani kita sehingga alampun mulai tidak ramah kepada kita.

Minggu, 31 Oktober 2010

APAKAH RUMAH RANGKA BETON PALING AMAN UNTUK RUMAH TAHAN GEMPA (2)

Di tengah kesibukan (dan kejenuhan!) saya menulis thesis S3 saya, saya mencoba kembali mengisi blog ini sekedar agar tidak terabaikan dan mengisi waktu jenuh saya yang memang sedang jauh dari anak istri ini (…ehem). Topik saya kali ini tidak jauh dengan tema thesis yang saya sedang kerjakan, rumah tradisional Jawa dan kaitannya dengan gempa bumi.

STIFFNESS, STRENGTH, dan DUCTILITY

Sebagai akibat gempa bumi Bantul 2006 lalu, banyak bangunan entah itu yang disebut dengan bangunan tradisional atau bangunan modern, sebagian besar hancur luluh lantak diterjang gempa. Segera setelah itu, pemerintah dan ratusan donatur membangun kembali hunian di bantul dan sekitarnya dengan rumah baru melalui program rekonstruksi. Jenis rumah rekonstruksi yang popular dan banyak dibangun ketika itu adalah rumah tembok batubata dengan rangka beton bertulang. Rumah seperti ini dianggap yang paling aman atau paling tepat untuk mengantisipasi gempa kelak kemudian hari. Rumah-rumah sebelumnya, terutama rumah tradisional, banyak dianggap kurang sesuai untuk bangunan tahan gempa. Maka berbondong-bondonglah masyarakat Bantul dan sekitarnya membangun rumah mereka dengan jenis beton bertulang ini yang memang sebelumnya kurang banyak dipakai, terutama masyarakat pedesaan yang dulu masih akrab dengan rumah batubata atau rumah kayu baik ‘gedhek’ atau ‘gebyok’. Kini sudah dapat dipastikan ketika anda berkunjung ke Bantul, rumah tempo doeloe ala rumah Jawa Limasan yang banyak dipakai di Bantul sebelumnya sudah tinggal kenangan.

Sekedar untuk diketahui, bahwa rumah batubata rangka beton memang menjadi salah satu solusi membangun rumah aman terhadap gempa tapi bukanlah yang teraman diantara pilihan yang ada. Mengingat sifat dari rangka beton dinding bata ini mengandalkan prinsip stiffness dan strength tentunya ketimbang ductile. Prinsip bangunan tahan gempa memang seharusnya mencakup tiga hal tersebut. Stiffnes adalah prinsip ketahan bangunan terhadap goncangan sehingga bangunan tidak berubah bentuk, sementara strength adalah prinsip kekuatan bangunan maksimal terhadap gempa sehingga selalu dikaitkan dengan ketahanan menerima beban. Smentara ductile lebih berkaitan dengan daya tahan bangunan untuk berubah bentuk (flexible, plastis), atau menyerap gaya, sesuai beban yang ada. Prinsip stiffness ini lebih aplikable pada bangunan dengan materi berat seperti batu bata dan beton yang sifatnya rigid atau kaku dan tidak fleksible. Sementara ductile lebih cocok kalau menggunakan material seperti kayu dan baja.

Sayangnya, prinsip bangunan yang mengutamakan stifness hanya cocok diaplikasikan untuk daearah yang mempunyai resiko gempa kecil mengingat daya tahan terhadap guncangan akan relative rendah. Hal ini diperparah dengan beban bangunan yang tinggi jika menggunakan material seperti batu bata dan beton bertulang. Beban yang tinggi disamping plastisitasnya relative rendah juga rentan terhadap bahaya guling karena gaya lateral atau horizontal akibat gempa. Ini juga sangat berbahaya jika digunakan sebagai bangunan hunian jika runtuhan elemen akan menimpa penghuni dibawahnya relative lebih ‘mematikan’ ketimbang material ringan seperti kayu. Apalgi jika kualitas pelaksanaan juga rendah, maka resiko terhadap gempa akan sangat tinggi.

Hal inilah yang mengusik pikiran saya selama ini. Rumah-rumah baru di Bantul telah dibangun sepernuhnya dengan menggunakan batu bata dan beton bertulang. Terlepas apakah pelaksanaannya benar atau belum, penggunaan jenis material ini memang masih menghawatirkan untuk daerah rawan gempa seperti di Bantul. Rumah-rumah dengan prinsip ductile yang tinggi mestinya lebih aman dan lebih ditekankan ketimbang beton bertulang yang lebih rigid dan brittle ini. Walaupun sementara pendapat mengatakan akan sangat mahal jika menggunakan kayu, tapi beton bertulang apakah juga bukan bahan bangunan yang mahal saat ini? Dan mungkin jangan dilupakan, potensi penggunaan kayu local seperti glugu ataupun bamboo juga masih dapat ditingkatkan. Dan satu lagi, dengan membangun rumah-rumah berbahan dasar kayu kita juga akan kembali melestarikan rumah tradisioal jawa yang sebelumnya banyak dipakai (nanti akan kita bahas mengapa rumah tradisioal banyak runtuh di gempa 2006 di Jawa).

ADA APA KETIKA GUNUNG GUNUNG BERAPI MULAI AKTIF?

Sebagai Negara yang berada di wilayah seismic aktif “ring of fire” sudah sewajarnya aktifitas seismic seperti gempa dan gunung berapi selalu ‘akrab’ dengan kehidupan bangsa Indonesia. Kedua lingkar tectonic Eurasia di selatan kepulauan Indonesia (tepatnya barat Pulau Sumatra dan Selatan Pulau Jawa ) dan Pacific Ridge di Timur Laut kita itu terkenal sebagai jalur tectonic yang paling aktif di deunia. Dara beberapa literature diketahui bahwa gempa dan aktifitas gunung berapi saling berkaitan erat. Hal ini terbukti jelas di tahun 2006 ketika aktifitas gunung-gunung berapi termasuk Merapi ketika itu menggeliat bersamaan dengan gempa di Jawa 27 Mei 2006 Yogyakarta atau 17 Juli 2006 di pantai selatan Pangandaran sehingga menghasilkan tsunami. Bahkan ketika gempa 27 Mei 2007 terjadi di Yogya, banyak penduduk mengira getaran itu adalah Merapi, karena gunung itu sudah batuk-batuk beberapa waktu sebelumnya di utara Yogya. Tetapi justeru gempalah yang ‘menyerang’ dari selatan Yogya sehingga menelan banyak korban dan kerugian material yang besar ketika itu.

Kekhawatiran saya saat ini adalah bahwa kondisi alam hampir menyerupai kondisi tahun 2006. Saat tulisan ini saya ketik, menurut laporan BMG ada sekitar 21 gunung yang beraktifitas dari sekitar 300-an gunung api yang ada di Indonesia.

Dari 21 gunung itu, 2 gunung tetap berstatus siaga, yaitu Gunung Ibu di Maluku Utara dan Gunung Karangetang, Sulawesi Utara.

19 Gunung yang berstatus waspada adalah:
1. Gunung Seulawah (Aceh)
2. Gunung Sinabung (Karo, Sumut)
3. Gunung Talang (Solok, Sumbar)
4. Gunung Kaba (Bengkulu)
5. Gunung Kerinci (Jambi)
6. Gunung Anak Krakatau (Lampung)
7. Gunung Papandayan (Garut, Jabar)
8. Gunung Slamet (Jateng)
9. Gunung Bromo (Jatim)
10. Gunung Semeru (Lumajang, Jatim)
11. Gunung Batur (Bali)
12. Gunung Rinjani (Lombok, NTB)
13. Gunung Sangeang Api (Bima, NTB)
14. Gunung Rokatenda (Flores, NTT)
15. Gunung Egon (Sikka, NTT)
16. Gunung Soputan (Minahasa Selatan, Sulut)
17. Gunung Lokon (Tomohon, Sulut)
18. Gunung Gamalama (Ternate, Maluku Utara)
19. Gunung Dukono (Halmahera Utara, Maluku Utara)

Sementara Gempa besar 7.2 M telah terjadi disertai Tsunami di kepulauan Mentawai adalah efek dari salah satu bangkitnya aktifitas tektonik Eurasia tersebut dan sangat berkaitan satu dengan yang lainnya. Gunung Talang di Sumatra Barat dalam hal ini paling berhubungan dengan gempa Mentawai, satu hal yang hampir mirip dengan Yogyakarta 2006 dengan Merapi dan gempa di Bantul. Menurut catatan gempa tahun 1981 yang terjadi di Yogya, Merapi juga sedang aktif2nya dengan puncak letusan pada 15 Juni 1984.


Gambar hubungan geology antara gempa sebagai akibat pergeseran pelat bumi dan aktifitas gunung berapi

Walau ini sering dibantah oleh BMG / ESDM sendiri dan harus dibuktikan dengan catatan2 yang lain, kita pantas berhati-hati dan waspada. Saya tidak bermaksud menghubung-hubungkan kondisi ini dengan bencana. Siapa tahu hal-hal yang tidak kita duga mungkin terjadi. Semoga letusan Merapi Sabtu 30 Oktober dini hari lalu adalah yang terakhir kalinya dan tidak diikuti gempa yang dapat menimbulkan bencana. Mari kita tetap berdoa dan berusaha agar bencana tidak datang terus menerus di negeri ini.

UPDATE!
9 November 2010
Setelah letusan dahsyat merapi Jumat dinihari 5 November 2010 lalu hari ini sudah disusul gempa di selatan Bantul 5.6 skala Ritcher. Sebelumnya juga terjadi di selatan Wonosari dengan 4 SR. Berdasarkan informasi yang diterima dari BMKG Yogyakarta, gempa terjadi pada 8,98 Lintang Selatan (LS) dan 110,08 Bujur Timur (BT) pada 125 km sebelah barat daya Kabupaten Bantul, DIY di kedalaman 10 km yang berlokasi di laut.
Walau terasa tidak begitu besar di Yogyakarta, namun sempat dirasakan pula di wilayah Jawa Tengah dan Jawa Barat. Dan yang paling penting gempa tersebut tidak merusak. Semoga itulah gempa yang saya khawatirkan tersebut. Dengan sudah terjadinya gempa di selatan Merapi, saya berharap semoga gempa tidak akan muncul lagi. Amin

Sabtu, 17 April 2010

KEMBALI MELONGOK SALAH SATU SUDUT ISTANBUL (2) : Wisata Kuliner

Saya merasa beruntung dapat mencicipi beberapa masakan Turki ketika saya berkunjung ke sana. Terimakasih saya sampaikan kepada Prof. Ibrahim yang selalu mengajak saya untuk mencoba menu-menu khas Turki. Saya sangat-sangat beruntung mempunyai professor yang sudah seperti ayah saya sendiri itu (dengan arti yang sebenar-benar seorang ayah: saya selalu ditraktir…hehe…:)). Yang saya tulis di sini hanyalah sebagian kecil saja dari yang beliau ajak ke saya, karena yang lain lupa motretnya. Saya jadi sedikit sungkan…harus dengan apa semua ini kubalas?? Hehe…trims prof…!

Kebap Iskender yang yummy dengan siraman butter special

Baiklah, makanan pertama yang saya ingin ceritakan adalah Kebap! Tentu semua orang juga tahu kalau ini makanan sudah identik dengan Turkey. Yang ingin saya sampaikan kali ini adalah yang paling istimewa: Kebap Iskender Haci Ali. Beberapa tahun saya di Turkey dan Cyprus, terus terang baru kali ini saya mencicipi kebap yang tasty…dagingnya empuk, gurih, tidak kering disiram butter istimewa Turkey…pokoknya mak nyusss kata bang Bondan…hehe. Istimewanya lagi saya makan dengan keluarga besar professor saya itu di Istanbul.


Kedua guests saya sedang menikmati kuliner Istanbul

Yang kedua, maaf ya, foto lengkap masakannya sudah keburu dimakan…harap maklum keburu laper..hehe. Makanan yang ini enak juga…masakannya campur ala timur tengah bener. Ada nasi campur kambing atau nasi kebuli. Itu yang saya pilih campur soup kacang polong besar. Rasanya mantab…. Pak Ruzardi temen makan saya waktu itu lebih pilih masakan yang deket-deket masakan Padang…soalnya sudah hampir seminggu selama di Cyprus dan Turkey beliau sudah kangen masakan kampung halamannya itu. Sebagai korbannya nasi pedas (walau gak cukup pedas sih…) dan daging berkuah mirip opor padang beliau pilih. Sudah cukuplah sementara dendam ke masakan kampung halaman…walau rasanya jauh banget…hehe. Lain lagi dengan Bu Tutik…sebagai orang Jawa masakan yang agak asin-asin pedes beliau suka. Semacam Kari ayam dan gorengan terong jadi pilihan. Kami saling mencicipi dan berbagi jadi tau semua rasanya hehe. Restoran makanan ini tepat di depan Grand Bazaar di Beyazit Istanbul.

Italian Spaghetti model sea food

Selanjutnya masakan bukan khas Turkey sih, tapi ini masakan negeri asal Valentino Rossi Italia; Spaghetti-ala sea food. Ini sih saya dapatkan di Cyprus bukan di Turkey. Makanan ini sekali lagi hasil traktiran professor saya yang sangat baik itu. Karena beliau tahu saya suka masakan sea food, suatu sore setelah menyelesaikan kuliah studio, saya diajak meluncur untuk mencari sesuatu berbau ikan..hehe…Setelah cari masakan yang bener-bener sea food gak ketemu, gak tahu kenapa, lagi pada tutup. Akhirnya kami ke restoran Italy, dapatlah makanan di bawah ini. Rasanya sih lumayan buat lidah saya yang njawani ini….hehe. Trims prof…!
Makanan 'biasa' model Turkey dan Cyprus

Makanan berikut adalah makan yang ‘biasa’ dan sering saya konsumsi baik di Turkey atau di Cyprus. Olahan gabungan antara daging, ayam, kentang, campur salad adalah menu biasa paket yang biasanya buat makan siang. Banyak sih variasinya, tapi menurut saya rasanya hampir sama; agak-agak asin campur asam…yang menurut lidah Jawa saya kurang tasty…kurang bumbu gitu loh! Hehe…
Sebagai jalan keluarnya kadang saya cari masakan 'internasional' semacam pizza gitulah. Tapi pizza model Turkey agak dikit beda, buah zaitun (olive) jadi assesorry utama pilihan orang sana. Walau kedengaran di telinga kita buah zaitun ini begitu 'anggun' dan nikmat...tapi begitu kita mencobanya...akan surprise deh rasanya...haha

Pizza ala Turkey, campur olive...hehe

Beda lagi pas buat sarapan. Orang Turkey (atau Eropa pada umumnya) mempunyai menu yang sangat berbeda antara buat sarapan dan makan siang. Jika buat luch atau dinner, masakan yang berat berlemak mudah kita temukan, buat sarapan, makanan ‘sangat sehat’ dengan berbagai hijau-hijauan campur kacang, selada, madu, keju, butter, mentimun, dan yang paling khas buah zaitun…menjadi menu utama. Munkin ini cara mereka menyeimbangkan menu fatty dan menu healthy…hehe.

Menu Sarapan (sorry foto saya ketlingsut, foto: http://www.dawnwestlake.com/)
Makanan berikut juga menarik: menu buka puasa! Menariknya lagi…selama sebulan penuh menu ini gratis-tis…lumayan buat kantong mahasiswa seperti saya…hehe. Pada intinya menu-menu yang dihidangkan hampir sama tiap harinya, cuma variasi bahannya sedikit beda, kadang bahan dasar ayam, kadang daging dengan campuran kentang dalam kuah kental soup. Roti-roti besar nan berbobot selalu menjadi teman setia menu paket buka puasa ini yang menurut saya sebagai orang dengan perut Indonesia sangat-sangat berlebihan kuantitasnya. Rasanya sih relative menurut lidah saya…maklum mungkin dengan alasan dimasak dengan kuantitas besar…kualitasnya jadi sedikit menurun.


Paket buka puasa gratis...

So itulah sekelumit sharing kuliner saya selama di Cyprus dan Turkey. Mumpung saya sempat menulis…dari pada foto2 itu hanya nganggur di laptop saya..hehe.

Jumat, 16 April 2010

MELONGOK KEMBALI SALAH SATU SUDUT ISTANBUL: Mesjid Suleymani dan Mesjid Rustam Pasha

Baru-baru ini saya berkesempatan keluyuran sekali lagi ke Istanbul Turkey. Kunjungan ini bermula berkat undangan Dr. Ruzardi dan Ibu Hastuti untuk jadi guide mereka cuci mata di Istanbul, setelah mereka menyelesaikan kunjungan kerja dari UII (Universitas Islam Indonesia) ke EMU (Eastern Mediterranean University) North Cyprus, universitas tempat saya belajar kini.

Setelah menunggu beberapa lama di Attaturk Airport terminal di Istanbul, akhirnya kami menuju hotel tempat kami menginap dengan melalui Metro Tram Istanbul di daerah kota lama Istanbul di kawasan Beyazit. Di sekitar inilah tempat2 penting Istanbul lama berada, antara lain yang terkenal adalah Istana Topkapi, Mesjid Biru Sultan Ahmed, Mesjid Suleymani, Grand Bazaar, dan sebagainya. Juga beberapa peninggalan penting sebelum era Kesultanan Ustmaniah (Ottoman) seperti Hagia Shopia, Kolom Konstantin, dsb sebagai symbol-symbol kejayaan Konstatinopel sebelum menjadi Istanbul pada abad pertengahan.

Saya tidak akan banyak membahas tempat2 yang sudah umum terkenal di Istanbul tersebut kali ini, namun ada dua mesjid yang menarik perhatian saya yaitu Masjid Suleymani dan Mesjid Rustam Pasha:


Tram di kawasan Kota Lama Istanbul (photo: Ummit Tuncay)

MESJID SULEYMANI

Mesjid Suleymani adalah mesjid terbesar kedua dan sangat penting bagi Kesultanan Utsmani. Mungkin kedengaran sedikit tidak seterkenal dengan Mesjid Sultan Ahmed atau yang biasa dikenal dengan Blue Mosque yang terletak berderetan dengan Hagia Shopia (Aya Sofia) dan Istana Topkapi. Letak Mesjid Suleyman berada di bukit di tengah-tengah semenanjung Istanbul yang sekaligus di tempat paling tinggi di area ini. Secara arsitektural, mesjid ini sangat penting yang mengilhami mesjid-mesjid yang lain termasuk Sultan Ahmed di sekitar area ini. Mesjid ini dibangun oleh Sultan Suleyman I dan merupakan karya arsitek terkenal Mimar Sinan yang dibangun sekitar 1550-1558 M. Menurut sejarah, keberadaan mesjid Suleymani ini sebagai jawaban Sultan Suleyman ketika itu atas Hagia Shopia yang sebenarnya dibangun oleh bangsa Byzantine yang sesungguhnya merupakan gereja. Mesjid ini juga sekaligus dibuat untuk menunjukan kebesaran Sultan Suleyman I sebagai penerus Nabi Suleyman dan menyebut dirinya the Second Solomon atas Nabi Suleyman yang terkenal dengan Dome of the Rock-nya di Israel kini.

Mesjid ini pernah runtuh sebagian kubahnya akibat gempa tahun 1766 di Istanbul yang sayangnya merusak sebagian dekorasi utama masjid. Sayang ketika saya di sana juga baru diadakan renovasi sehingga saya tidak berkesampatan masuk ke dalamnya. Namun saya cukup terhibur dapat mengunjungi makam Sultan Suleyman sebagai tokoh penyebar Islam utama dan salah satu sultan terpenting di Dinasty Ustmaniah .

Mesjid Suleymani dengan Latar Depan Jembatan Galata (Ingat Galata Saray kan? itu deket sini) dari Arah Perairan Golden Horn

Salah Stau gerbang Mesjid Suleymani

Jalan Depan Mesjid Suleymani

Mesjid Suleymani yang Baru di Renovasi

Makam Sultan Suleyman

Interior Makam Sultan Suleyman dan Kerabatnya

MESJID RUSTAM PASHA

Diantara sekian banyak peninggalan itu, ada satu mesjid yang tidak begitu besar namun sangat bernilai karena mempunyai peninggalan keramik dari era Kesultanan Ustmani yang menggunakan keramik Iznik (periode 1555-1620)di seluruh dindingnya yang tidak akan dijumpai di mesjid-mesjid lainnya di Istanbul. Mesjid ini adalah Mesjid Rustam Pasha. Mesjid ini juga merupakan karya Mimar Sinan yang dibangun sekitar 1561-1563 atas perintah Sultan Suleyman yang didedikasikan untuk Sultan Rustam Pasha, menantu dari Sultan. Saking berharganya keramik2 itu, mesjid dijaga 24 jam penuh oleh fihak keamanan Turky untuk menghindari pencurian yang dahulu marak dilakukan untuk dijual ke koleksi barang antic di pasar gelap Eropa.
Bagian Serambi dan Interior Mesjid Rustam Pasha

Mihrab Mesjid Rustam Pasha yang Penuh dengan Keramik Antik

Bagian Atas Interior Masjid