Minggu, 10 Januari 2010

ME-REKA ULANG CANDI DI UII (Reconstruction for Ancient Temple in UII)

Walaupun proses ekskavasi situs Kimpulan candi kuno di Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta sampai tulisan ini dibuat belum selesai, beberapa dugaan awal telah dapat dikemukakan berkaitan dengan bentuk candi. Menurut hasil penggalian, yang jelas, candi ini mempunyai bentukan yang unik yang berbeda dari candi-candi yang lain di Jawa. Keunikan tersebut adalah dengan bentuk yang lebih sederhana ‘minimalis’ walaupun dengan teknik pengerjaan yang sangat halus. Candi minimalis ini diduga mempunyai faktor kesejarahan tersendiri ketika masa dibangunnya. Keunikan yang lain adalah dengan diduganya penggunaan bahan kayu yang sebelumnya dainggap tidak pernah digunakan untuk candi di Jawa.



Eskavasi Candi di UII (candiuii.blogspot.com)

Menurut penulis, yang bukan arkeolog ini, bentuk candi di UII ini mirip dengan bentuk bale kulkul di Bali. Bentuk platform yang ditinggikan berbentuk bujursangkar (atau persegi?) dengan tangga yang diduga dari kayu adalah cirikhas bale kulkul. Atap tajug dengan kolom kayu juga dapat diterapkan pada candi di UII ini. Walau penulis belum sempat mendatangi langsung situs candi ini, paling tidak dapat dilakukan pendugaan menurut bukti-bukti yang ada, yaitu bentuk fisik candi dan bekas umpak yang terdapat di dalam pagar lankan candi.

Rekonstruksi candi di UII

Mata Rantai Candi Jawa dan Bali

Dengan bentuk demikian, kelihatannya dapat diasumsikan bahwa candi ini mempunyai peran besar dalam mengungkapkan mata rantai yang terputus candi-candi Hindu Jawa dengan candi-candi Hindu Bali. Kita mengetahui bahwa terdapat perbedaan yang besar bentuk maupun material candi Hindu di kedua wilayah tersebut walaupun berasal dari masyarakat yang sama, Hindu Mataram. Kesimpulan penulis sementara adalah bahwa candi di UII ini dibangun pada masa-masa akhir Mataram Hindu sebelum terjadi perpindahan masayarakat hindu dari Jawa ke Bali.

Rekonstruksi candi UII dan Bale Kulkul Rambut Siwi (warungnet.de)
Andai Tim BP3 telah selesai dengan penggaliannya, menemukan prasasti, atau melalui proses carbon dating, mungkin dapat dibuktikan tulisan ini benar atau tidak. Wallahualam…..
Lalu bagaimana dengan mulai digunakannya material kayu? Apakah ada kaitannya dengan gempa atau Gunung Merapi??
Bagaimana menurut anda???

MENGAPA RUMAH JAWA MUDAH RUNTUH PADA GEMPA 2006? (Why Javanese Houses were Easily Collapsed on the 2006 Earthquake?)

Pengantar:
Tulisan ini adalah permulaan dari study saya, mengapa begitu mudahnya rumah Jawa runtuh pada gempa 2006 sehingga memakan banyak korban?
Dugaan:
Beberapa alasan di bawah ini menjadi dugaan saya untuk melakukan study ini yang masih perlu dibuktikan dengan metode ilmiah. Ada dua hal faktor utama penyebab ‘gagalnya’ rumah Jawa yaitu dari gempa dan lingkungan sebagai faktor eksternal dan rumah itu sendiri sebagai factor internal yang akan banyak dipengaruhi beberapa hal:

1. Gempa 27 Mei 2006 terjadi dengan pusat yang sangat dekat dengan pemukiman
Walaupun gempa tersebut ‘hanyalah’ dengan kekuatan magnitude 5.9 (BMG) atau 6.2 (USGS), namun pusat gempa berada dekat dengan pemukiman penduduk dan berada relative dangkal dengan kedalaman 10km. Dengan dekatnya sumber gempa terhadap obyek akan lebih besar intensitas yang ditimulkannya sebesar VIII-IX MMI (Modified Merchali Intensity). Suatu ukuran yang diterapkan pada akibat yang ditimbulkan pada daerah pengaruh gempa, bukan pada pusatnya seperti Sekala Ritcher.

2. Kondisi geology kawasan yang mendukung penyebaran energy gempa dengan mudah.
Bantul dan Klaten terletak di daerah yang relative subur dibandingkan dengan Gunung Kidul. Jika kita tarik garis dari Bantul ke Klaten, daerah ini sebenarnya berada di atas patahan Opak yang secara otomatis berada di daerah dengan kondisi tanah yeng gembur. Sayangnya kondisi ini menghasilkan tanah relative lebih subur jika dibanding dengan Gunung Kidul yang tanahnya terdiri dari lapisan bebatuan kapur (karts). Sehingga tidak heran jika banyak pemukiman padat di atasnya. Jika terjadi gempa, bangunan-bangunan di daerah ini akan lebih mudah mendapat pengaruh yang lebih besar. Oleh sebab itulah di daerah Klaten dan Bantul terdapat bangunan runtuh yang lebih banyak disbanding daerah lain.

3. Rumah-rumah orang Jawa terdiri dari rumah yang sudah tidak sesuai dengan kondisi alam
Rumah orang Jawa selalu berubah sesuai dengan perkembangan jaman. Sayangnya perubahan itu lebih banyak dipengaruhi oleh factor eksternal seperti perubahan pandangan hidup dan kondisi ekonomi. Secara tradisional, rumah orang Jawa merupakan rumah kayu (gebyok) yang terdiri dari beberapa jenis seperti Joglo, Limasan, atau Kampung. Jaman silih berganti, perubahan pada material dilakukan seperti mengganti gebyok atau gedek dengan dinding batu bata. Mengganti kolom kayu dengan beton bertulang dan sebagainya. Perubahan ini akan secara langsung mempengaruhi kinerja rumah terhadap kondisi alam seperti gempa.

4. Gempa sudah lama tidak terjadi sebelum 2006.
Jika gempa terjadi secara periodic, menurut teori geology tidak akan menghasilkan gempa yang berukuran besar. Sayangnya sebelum 2006, hamper tidak pernah terjadi sejak tahun 1943. Rentang waktu 60-an tahun itu sudah cukup untuk mengumpulkan energy potensial yang cukup untuk menghasilkan gempa besar.
Dari sisi manusianya, gempa yang telah lama tidak terjadi telah menurunkan tingkat kewaspadaan mereka terhadap kesalamatan bangunan yang mereka huni. Bukan hanya karena alasan ekonomi saja, penerapan konstruksi yang tidak benar juga karena ketidak sadaran masyarakat terhadap bahaya potensi ancaman gempa.

So, dengan alasan –alasan itulah rumah orang Jawa mudah hancur diterjang gempa 2006. Ada pendapat lain???

RUMAH YANG PALING TAHAN GEMPA (The Most Earthquake Resistant Houses)


Setelah gempa menyerang, biasanya pemerintah mengganti rumah-rumah yang hancur dengan rumah tahan gempa. Namun, sesungguhnya kebanyakan rumah hasil rekonstruksi bukanlah rumah tahan gempa yang sebenarnya. Rumah-rumah tersebut hanyalah rumah yang “diperkirakan” akan lebih mampu menyelematkan penghuni dari bahaya fatal tertimpa bagian bangunan gempa. Konsep rumah tahan gempa selama ini adalah rumah yang mampu bertahan dari goyangan gempa beberapa lama setelah gempa terjadi namun bukan untuk tetap berdiri dari goyangan gempa. Tujuan utama adalah penghuni mempunyai waktu untuk menyelamatkan diri. Rumah boleh ambruk, namun harus punya jeda waktu. Tidak langsung ambruk.

Apakah ada rumah tahan gempa yang sebenarnya? Jawabnya YA.

Bangunan ini mirip dengan bangunan non permanent. Prinsip utama bangunan yang benar-benar tahan gempa adalah harus tidak berkaitan langsung dengan sumber goncangan yaitu bumi. Yang kedua adalah harus seringan mungkin.
Ruman-rumah tersebut adalah:

Rumah Balon Udara
Tujuan rumah balon adalah membuat rumah melayang di angkasa. Berapapun kuat gempa tak akan mempengaruhi rumah ini. Ini adalah rumah anti gempa yang paling ideal!!!

rumah balon (www.shannonfamily.ne )


Ruman Rakit
Rumah rakit, sama halnya dengan rumah balon, mengindarkan sentuhan langsung dengan bumi namun media yang dipakai adalah air. Asalkan tidak diikuti dengan tsunami, rumah ini sangat aman terhadap goncangan gempa.

rumah rakit (www.skatedc.org )

Rumah Pohon
Rumah pohon juga bertujuan mengangkat rumah dari bumi. Pohon-pohon jarang tumbang jika terjadi gempa, kecuali gempa diikuti tanah lonsor atau gempa sangat kuat sekali. Kekuatan pohon sangat berpengaruh dalam hal ini.

rumah pohon (caoscontrol.wordpress )

Rumah Bergerak
Rumah mobil atau caravan adalah pilihan lain untuk meminimalisasikan pengaruh goncangan gempa. Roda akan membuat rumah mudah bergerak jika terjadi gempa, dengan demikian rumah tidak akan hancur.

rumah karavan (www.beauly-caravan.co.uk/ )

Rumah Ringan
Rumah ringan juga akan mampu bertahan terhadap goncangan gempa. Rumus F=MA akan berpengaruh langsung terhadap rumah-rumah ringan.


rumah ringan (www.productlauncher.com )
so, bagaimana dengan rumah anda? sudah tahan gempakah???

Sabtu, 09 Januari 2010

Earthquake, Traditional Javanese House, and Newton Law

Even though Java Island is located in near Sunda Trench, the meeting continental boundaries of Australian and Eurasian plates, earthquakes were very rarely before the year of 2006. Several quakes may happen in the ancient time without a significant number of casualties. It can be understood that the population density was lower and most of buildings were constructed from wood. This assumption is based on the fact that big fatalities in 2006 Java earthquake was caused by collapsed houses which are constructed by weak masonry.

Earthquake history in Java Island:

1867 : 372 houses collapsed, 5 fatalities
1943 : 2.800 houses collapsed, 213 fatalities, 2.096 injured
1981 : no casualties 2006 May 27 Central Java: 5.9 (BMG) 6.2 (USGS) 6.234 fatalities, > 50.000 injured, >70.000 houses collapsed
2006 Jul 17 West-Central Java: 7.7 (USGS) 500 fatalities, 9299 injured, 68 houses damaged
2009 Sept 2 West Java: 7.4 (BMG) 7.0 (USGS) 57 fatalities and 300 injured , >10.000 houses damaged
2009 Nov 13 Central Java: 5.4 (USGS) No casualties

When we look back to ancient traditional Javanese houses, wooden based structures are mostly used for houses where stone and brick construction were for temples. Lateral forces from earthquake were easily dissipated by light wooden building since wooden post and beam has flexible adaptability to deal with the forces while heavy (masses) building will be affected more. The simplest form of the equation which expresses the Second Law of Motion is:

F = MA

Beside masses, acceleration has this important influence on damage, because, as an object in movement, the building obeys Newton' Second Law of Dynamics.

This states the Force acting on the building is equal to the Mass of the building times the Acceleration. So, as the acceleration of the ground, and in turn, of the building, increase, so does the force which affects the building, since the mass of the building doesn't change.

The greater the force affecting a building, the more damage it will suffer; decreasing F is an important goal of earthquake resistant design. When designing a new building, for example, it is desirable to make it as light as possible, which means, of course, that M, and in turn, F will be lessened. Various techniques are now also available for reducing A.

HARAPAN UNTUK 2010 (Expectation for 2010)

Menengok ke 20 tahun terakhir, catatan sejarah bumi ini sepertinya semakin menghawatirkan saja. Bukan bermaksud menakut-nakuti....tapi sejak 1990 selalu ada saja bencana gempa bumi di tiap tahunnya yang memakan banyak korban. Menurut data USGS, gempa-gempa besar tidak pernah absent semenjak 1990 - 2009 silam. Tercatat 20 gempa besar meluluh lantakkan 20 tempat di muka bumi yang 5 di antaranya terjadi di Indonesia.

Coba cek link ini:
http://earthquake.usgs.gov/earthquakes/eqarchives/year/byyear.php

Fakta ini tentunya membuat miris kita sebagai bangsa Indonesia. Selain diberkati dengan segala sumber daya alam yang melimpah, di bumi nusantara ini ancaman gempa juga tidak kalah banyaknya. Kabar buruknya, frekwensi kejadian gempa itu semakin sering di tahun-tahun terakhir ini.

Semoga di tahun 2010 tidak terjadi lagi gempa-gempa yang menelan banyak korban baik benda ataupun nyawa. Sebagai konsekuensi alam, tentunya gempa boleh saja terjadi, tapi kita juga berharap agar gempa itu tidak akan sampai menghasilkan banyak kerugian. Menurut ilmu geologi, kabar baiknya, justeru semakin sering terjadi gempa, akan semakin baik karena energi yang dilepaskannya akan semakin kecil.




Earthquake Density Map (USGS)

Dan...semoga bencana senantiasa dijauhkan dari kita....."2010 tanpa bencana"

2010

Tahun baru, semua baru (mestinya). Blog ini juga dibuat ditahun baru 2010 yang mestinya dengan semangat baru. Kepingin seperti yang lain, punya blog dan bisa mencurahkan uneg-uneg biar tidak tetep di dalam kepala...biar gak stress...biar enteng ini kepala...hehe.

Saking banyaknya isi kepala yang mau ditulis....jadi bingung apa dulu yang mau dikatakan. Tapi paling tidak, sudah nyicil ayem, berhasil melakukan sign-up ke blogger...:)

Kembali ke tahun baru. 2010, adalah tahun dengan deretan bilangan yang cukup bagus menurut saya; 20 dan 10. Kalau dijumlah jadi 30. Semua angka awal ada, 0, 1, 2 dan 3. Seperti aba-aba saja...sehingga menurutku, ini tahun paling tepat untuk dijadikan awal untuk memulai melakukan sesuatu, paling tidak seperti saya membuka blog...Semoga saja, yang ini nasibnya tidak seperti blog-blogku yang dulu...tidak terurus...typical orang Indonesia banget...suka buat...males melihara...hehe....

The last evening of 2009 in Beautiful Cyprus