Tampilkan postingan dengan label Gempa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Gempa. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 13 November 2010

MENGAPA RUMAH JAWA BANYAK RUNTUH PADA GEMPA 2006 ?


Secara umum faktor penyebab banyaknya kegagalan rumah Jawa dapat dipengaruhi oleh: kedekatan pusat gempa, formasi geologi wilayah setempat, tingkat kepadatan penduduk yang tinggi, dan konstruksi yang tidak sempurna (Idham, N, 2010a et.al)

Pusat Gempa Berada Relatif Sangat Dekat dan Dangkal dengan Objek Rumah Jawa

Menurut sumber USGS, gempa 2006 mempunyai kekuatan 6,2 skala Ritcher dengan pusat gempa pada 7,96° LS, 110,46° BT dengan kedalaman 10 km. Pusat gempa terletak di darat tepatnya di muara Sungai Opak sekitar 20 km dari Yogyakarta dengan kedalaman yang dangkal. Ini berarti bahwa sumber gempa berada di lokasi rumah Jawa berada (Kabupaten Bantul DIY). Posisi epicenter ini sangat berpengaruh terhadap afek yang diakibatkan pada suatu wilayah. Kekuatan gempa dan efeknya terhadap bangunan akan kurang berarti jika pusat gempa jauh dari sumber energi. Beberapa saat setelah gempa bumi tersebut, sebenarnya telah diikuti oleh gempa lain seperti gempa 7,0 SR di selatan Provinsi Jawa Barat pada tanggal 2 September 2009 dengan jarak pusat gempa 195 km dari Jakarta dengan kedalaman 46,2 km atau di lautan Indonesia (USGS 2009a). Gempa tersebut terbukti 'hanya' menyebabkan 57 orang meninggal dunia dan 300 korban luka-luka serta sekitar 10.000 rumah rusak. Gempa ini juga dirasakan dari Yogyakarta dan Jawa Tengah tetapi tidak berpengaruh atau sedikit, jika ada, terhadap bangunan-bangunan di sana. Gempa bumi yang lain juga terjadi pada 13 November dengan kekuatan 5.4 SR 360 km dari Jakarta dengan kedalaman 41 km (USGS 2009b). Gempa terakhir ini sama sekali tidak memakan korban jiwa dan menimbulkan kerusakan bangunan. Berkaitan dengan pengaruh terhadap bangunan, skala MMI lebih berguna dalam mengukur dampak gempa pada karena berdasarkan pengaruh langsung di daerah tersebut. Jika gempa bumi 2006 Jawa telah VIII-IX, sedangkan September 2, 2009 Jawa Barat hanya gempa VI-VII MMI.

Kondisi Geologi dan Pengaruhnya terhadap Bangunan

Alih-alih menyebarkan ke situs sekitarnya dengan cara radial, gempa bumi 2006 Jawa memiliki pengaruh yang berbeda di beberapa wilayah berkaitan dengan kondisi geologi tanah setempat. Tanah lunak relatif mudah meneruskan dan menguatkan gelombang (S wave dan surface wave) dari pusat gempa. Mennurut MAE percepatan puncak horisontal di wilayah tersebut mencapai 0,20 - 0.34g dan pergerakan vertikal diperkirakan 0,18 ~ 0.30g yang dikategorikan sangat tinggi (Elnashai AS, et.al, 2007). Sebagai hasilnya, bangunan yang terletak di dekat garis sungai atau tanah basah akan terpengaruh lebih ketimbang di tempat lain. Dari data gempa 2006, walaupun relatif dekat daerah pusat gempa, Gunung Kidul mendapatkan efek relatif kecil karena tanahnya lebih kaku dari batu kapur. Di lain sisi, daerah yang lebih jauh seperti Kabupaten Klaten terdapat lebih banyak rumah yang runtuh karena terdiri dari sebagian besar tanah pertanian yang basah. Dengan demikian, sebagai konsekuensi dari lahan pertanian yang gembur, Bantul dan Klaten akan lebih terancam dari bencana gempa bumi dibandingkan dengan daerah sekitarnya. Daerah tanah gembur dan basah membentang dari Bantul ke Klaten ini secara geology dikenal sebagai garis cesar Opak.

Kepadatan Penduduk Sangat Tinggi

Pulau Jawa adalah wilayah berpenduduk terpadat di dunia dengan 979/km². Kabupaten Bantul di mana banyak rumah runtuh di gempa 2006, adalah salah satu di antaranya yang merupakan daerah terpadat di Jawa dengan populasi 831.955 226.777 yang tinggal di rumah di wilayah 506,85 km² atau 1641.4/km² penduduk dan 447,4 rumah di setiap km² (DEPKES 2007). Ketika gempa 2006 menggoncang, 148.440 dari 218.345 rumah (67,9%) di Bantul tidak dapat ditempati lagi atau rusak parah dan runtuh (BAPPENAS 2006).

Struktur Rumah yang Sangat Lemah dan dibangun Tanpa Pertimbangan terhadap Bahaya Gempa

Walaupun rumah Jawa tradisional asli dibangun dengan material kayu, namun pada kenyataannya akhir-akhir ini batubatalah material utama konstruksi bangunan. Menurut Boen (2006), rumah-rumah runtuh dari Jawa 2006 sebagian besar dibangun oleh batu bata baik dengan atau tanpa rangka beton bertulang. Pasangan bata yang lemah merupakan faktor utama penyebab runtuhnya bangunan sedangkan untuk bangunan yang lebih baru dengan rangka beton bertulang; detail hubungan yang tidak benar merupakan aspek paling banyak penyebab kegagalan struktural. Hal ini terutama dikarenakan karena kurangnya pertimbangan bahaya gempa sejak 1943 ketika gempa bumi besar untuk terakhir kalinya, sebelum itu terjadi lagi pada tahun 2006.

Gambar. Perubahan Struktur dan konstruksi Rumah Jawa dari Kayu ke Batubata

Bangunan dengan konstruksi dinding bata telah digunakan secara luas untuk rumah sejak Pulau Jawa diduduki Belanda di awal abad ke-17 hingga masa sekarang (Prijotomo, 1996). Bahkan untuk sebagian besar penduduk Jawa, rumah dinding bata telah digunakan sebagai simbol status sosial keluarga pemilik (Koentjaraningrat, 1984). Sayangnya, konsep baru yang dibawa Belanda yang memang tidak berpengalaman sama sekali terhadap gempa itu, telah diikuti tanpa pertimbangan bahaya gempa. Selanjutnya, keterbatasan ekonomi masyarakat dan kurangnya kesadaran bagaimana pembangunan yang tepat juga telah berkontribusi terhadap penyebab lemahnya konstrukci pembangunan rumah. Konstruksi yang kurang tepat tersebut sayangnya menyebabkan hilangnya begitu banyak nyawa dan materi pada gempa 2006 lalu.

Berdasarkan Paper:


Idham, N, Mohd, M and Numan, I (2010a) ”Why The Javanese Houses Have Failed In The 2006 Earthquake”, in proceeding of the International Conference on Sustainable Built Environment (ICSBE 2010) pp.121-128. Faculty of Civil Engineering and Planning, Islamic University of Indonesia, August 2010.

Minggu, 31 Oktober 2010

APAKAH RUMAH RANGKA BETON PALING AMAN UNTUK RUMAH TAHAN GEMPA (2)

Di tengah kesibukan (dan kejenuhan!) saya menulis thesis S3 saya, saya mencoba kembali mengisi blog ini sekedar agar tidak terabaikan dan mengisi waktu jenuh saya yang memang sedang jauh dari anak istri ini (…ehem). Topik saya kali ini tidak jauh dengan tema thesis yang saya sedang kerjakan, rumah tradisional Jawa dan kaitannya dengan gempa bumi.

STIFFNESS, STRENGTH, dan DUCTILITY

Sebagai akibat gempa bumi Bantul 2006 lalu, banyak bangunan entah itu yang disebut dengan bangunan tradisional atau bangunan modern, sebagian besar hancur luluh lantak diterjang gempa. Segera setelah itu, pemerintah dan ratusan donatur membangun kembali hunian di bantul dan sekitarnya dengan rumah baru melalui program rekonstruksi. Jenis rumah rekonstruksi yang popular dan banyak dibangun ketika itu adalah rumah tembok batubata dengan rangka beton bertulang. Rumah seperti ini dianggap yang paling aman atau paling tepat untuk mengantisipasi gempa kelak kemudian hari. Rumah-rumah sebelumnya, terutama rumah tradisional, banyak dianggap kurang sesuai untuk bangunan tahan gempa. Maka berbondong-bondonglah masyarakat Bantul dan sekitarnya membangun rumah mereka dengan jenis beton bertulang ini yang memang sebelumnya kurang banyak dipakai, terutama masyarakat pedesaan yang dulu masih akrab dengan rumah batubata atau rumah kayu baik ‘gedhek’ atau ‘gebyok’. Kini sudah dapat dipastikan ketika anda berkunjung ke Bantul, rumah tempo doeloe ala rumah Jawa Limasan yang banyak dipakai di Bantul sebelumnya sudah tinggal kenangan.

Sekedar untuk diketahui, bahwa rumah batubata rangka beton memang menjadi salah satu solusi membangun rumah aman terhadap gempa tapi bukanlah yang teraman diantara pilihan yang ada. Mengingat sifat dari rangka beton dinding bata ini mengandalkan prinsip stiffness dan strength tentunya ketimbang ductile. Prinsip bangunan tahan gempa memang seharusnya mencakup tiga hal tersebut. Stiffnes adalah prinsip ketahan bangunan terhadap goncangan sehingga bangunan tidak berubah bentuk, sementara strength adalah prinsip kekuatan bangunan maksimal terhadap gempa sehingga selalu dikaitkan dengan ketahanan menerima beban. Smentara ductile lebih berkaitan dengan daya tahan bangunan untuk berubah bentuk (flexible, plastis), atau menyerap gaya, sesuai beban yang ada. Prinsip stiffness ini lebih aplikable pada bangunan dengan materi berat seperti batu bata dan beton yang sifatnya rigid atau kaku dan tidak fleksible. Sementara ductile lebih cocok kalau menggunakan material seperti kayu dan baja.

Sayangnya, prinsip bangunan yang mengutamakan stifness hanya cocok diaplikasikan untuk daearah yang mempunyai resiko gempa kecil mengingat daya tahan terhadap guncangan akan relative rendah. Hal ini diperparah dengan beban bangunan yang tinggi jika menggunakan material seperti batu bata dan beton bertulang. Beban yang tinggi disamping plastisitasnya relative rendah juga rentan terhadap bahaya guling karena gaya lateral atau horizontal akibat gempa. Ini juga sangat berbahaya jika digunakan sebagai bangunan hunian jika runtuhan elemen akan menimpa penghuni dibawahnya relative lebih ‘mematikan’ ketimbang material ringan seperti kayu. Apalgi jika kualitas pelaksanaan juga rendah, maka resiko terhadap gempa akan sangat tinggi.

Hal inilah yang mengusik pikiran saya selama ini. Rumah-rumah baru di Bantul telah dibangun sepernuhnya dengan menggunakan batu bata dan beton bertulang. Terlepas apakah pelaksanaannya benar atau belum, penggunaan jenis material ini memang masih menghawatirkan untuk daerah rawan gempa seperti di Bantul. Rumah-rumah dengan prinsip ductile yang tinggi mestinya lebih aman dan lebih ditekankan ketimbang beton bertulang yang lebih rigid dan brittle ini. Walaupun sementara pendapat mengatakan akan sangat mahal jika menggunakan kayu, tapi beton bertulang apakah juga bukan bahan bangunan yang mahal saat ini? Dan mungkin jangan dilupakan, potensi penggunaan kayu local seperti glugu ataupun bamboo juga masih dapat ditingkatkan. Dan satu lagi, dengan membangun rumah-rumah berbahan dasar kayu kita juga akan kembali melestarikan rumah tradisioal jawa yang sebelumnya banyak dipakai (nanti akan kita bahas mengapa rumah tradisioal banyak runtuh di gempa 2006 di Jawa).

ADA APA KETIKA GUNUNG GUNUNG BERAPI MULAI AKTIF?

Sebagai Negara yang berada di wilayah seismic aktif “ring of fire” sudah sewajarnya aktifitas seismic seperti gempa dan gunung berapi selalu ‘akrab’ dengan kehidupan bangsa Indonesia. Kedua lingkar tectonic Eurasia di selatan kepulauan Indonesia (tepatnya barat Pulau Sumatra dan Selatan Pulau Jawa ) dan Pacific Ridge di Timur Laut kita itu terkenal sebagai jalur tectonic yang paling aktif di deunia. Dara beberapa literature diketahui bahwa gempa dan aktifitas gunung berapi saling berkaitan erat. Hal ini terbukti jelas di tahun 2006 ketika aktifitas gunung-gunung berapi termasuk Merapi ketika itu menggeliat bersamaan dengan gempa di Jawa 27 Mei 2006 Yogyakarta atau 17 Juli 2006 di pantai selatan Pangandaran sehingga menghasilkan tsunami. Bahkan ketika gempa 27 Mei 2007 terjadi di Yogya, banyak penduduk mengira getaran itu adalah Merapi, karena gunung itu sudah batuk-batuk beberapa waktu sebelumnya di utara Yogya. Tetapi justeru gempalah yang ‘menyerang’ dari selatan Yogya sehingga menelan banyak korban dan kerugian material yang besar ketika itu.

Kekhawatiran saya saat ini adalah bahwa kondisi alam hampir menyerupai kondisi tahun 2006. Saat tulisan ini saya ketik, menurut laporan BMG ada sekitar 21 gunung yang beraktifitas dari sekitar 300-an gunung api yang ada di Indonesia.

Dari 21 gunung itu, 2 gunung tetap berstatus siaga, yaitu Gunung Ibu di Maluku Utara dan Gunung Karangetang, Sulawesi Utara.

19 Gunung yang berstatus waspada adalah:
1. Gunung Seulawah (Aceh)
2. Gunung Sinabung (Karo, Sumut)
3. Gunung Talang (Solok, Sumbar)
4. Gunung Kaba (Bengkulu)
5. Gunung Kerinci (Jambi)
6. Gunung Anak Krakatau (Lampung)
7. Gunung Papandayan (Garut, Jabar)
8. Gunung Slamet (Jateng)
9. Gunung Bromo (Jatim)
10. Gunung Semeru (Lumajang, Jatim)
11. Gunung Batur (Bali)
12. Gunung Rinjani (Lombok, NTB)
13. Gunung Sangeang Api (Bima, NTB)
14. Gunung Rokatenda (Flores, NTT)
15. Gunung Egon (Sikka, NTT)
16. Gunung Soputan (Minahasa Selatan, Sulut)
17. Gunung Lokon (Tomohon, Sulut)
18. Gunung Gamalama (Ternate, Maluku Utara)
19. Gunung Dukono (Halmahera Utara, Maluku Utara)

Sementara Gempa besar 7.2 M telah terjadi disertai Tsunami di kepulauan Mentawai adalah efek dari salah satu bangkitnya aktifitas tektonik Eurasia tersebut dan sangat berkaitan satu dengan yang lainnya. Gunung Talang di Sumatra Barat dalam hal ini paling berhubungan dengan gempa Mentawai, satu hal yang hampir mirip dengan Yogyakarta 2006 dengan Merapi dan gempa di Bantul. Menurut catatan gempa tahun 1981 yang terjadi di Yogya, Merapi juga sedang aktif2nya dengan puncak letusan pada 15 Juni 1984.


Gambar hubungan geology antara gempa sebagai akibat pergeseran pelat bumi dan aktifitas gunung berapi

Walau ini sering dibantah oleh BMG / ESDM sendiri dan harus dibuktikan dengan catatan2 yang lain, kita pantas berhati-hati dan waspada. Saya tidak bermaksud menghubung-hubungkan kondisi ini dengan bencana. Siapa tahu hal-hal yang tidak kita duga mungkin terjadi. Semoga letusan Merapi Sabtu 30 Oktober dini hari lalu adalah yang terakhir kalinya dan tidak diikuti gempa yang dapat menimbulkan bencana. Mari kita tetap berdoa dan berusaha agar bencana tidak datang terus menerus di negeri ini.

UPDATE!
9 November 2010
Setelah letusan dahsyat merapi Jumat dinihari 5 November 2010 lalu hari ini sudah disusul gempa di selatan Bantul 5.6 skala Ritcher. Sebelumnya juga terjadi di selatan Wonosari dengan 4 SR. Berdasarkan informasi yang diterima dari BMKG Yogyakarta, gempa terjadi pada 8,98 Lintang Selatan (LS) dan 110,08 Bujur Timur (BT) pada 125 km sebelah barat daya Kabupaten Bantul, DIY di kedalaman 10 km yang berlokasi di laut.
Walau terasa tidak begitu besar di Yogyakarta, namun sempat dirasakan pula di wilayah Jawa Tengah dan Jawa Barat. Dan yang paling penting gempa tersebut tidak merusak. Semoga itulah gempa yang saya khawatirkan tersebut. Dengan sudah terjadinya gempa di selatan Merapi, saya berharap semoga gempa tidak akan muncul lagi. Amin

Minggu, 28 Februari 2010

RANGKAIAN GEMPA ITU LOMPAT KE AMERIKA

Sebulan setelah gempa menyerang Haiti di awal Januari lalu, kini di akhir February 2010 gempa dahsyat kembali menyerang Amerika selatan tepatnya di Chile dengan kekuatan 8.8 sekala Ritcher. Jika pada tulisan sebelumnya saya memaparkan data bahwa gempa besar selalu terjadi di setiap tahun di dua puluh tahun terakhir, tampaknya dua gempa besar Haiti dan Chile sedikit merubah fakta itu. Hanya dalam kurun waktu satu bulanan, gempa besar kembali terjadi. Hal ini menunjukkan bahwa intensitas gempa besar semakin tinggi, mungkin bukan setiap tahun sekali tapi sebulan sekali. Atau paling tidak lebih dari dua kali dalam setahun, mengingat masih terdapat 10 bulan lagi di tahun macan 2010 ini.

Rangkaian gempa Chile 8.8 SR (Google Earth)

Dilihat dari kejadian yang beruntun dalam waktu dekat di Amerika (selatan) tersebut, saya sedikit berpikir bahwa kini giliran Amerika akan banyak mendapatkan gempa. Dalam artian, pelat-pelat yang berada di sekitar Amerika termasuk pelat Pasific, pelat Nazca, pelat Amerika Selatan, pelat Caribia, dan pelat Amerika Utara sendiri. Jika kita lihat pada peta, gempa Chile terjadi akibat pelepasan energy akibat tumbukan pelat Nazca (dan juga Cocos) dan pelat Amerika selatan. Kedua garis benua ini bertemu sangat dekat dengan Negara-negara Amerika selatan sisi barat seperti Chile, Peru, Equador, Columbia, Panama, Costa Rica, Nicaragua, Guatemala, sampai Mexico dan Amerika Serikat. Bagian yang lain yang mulai aktif adalah pelat Caribia dengan terjadinya gempa Haiti kemarin.
Sesar-sesar aktif dunia (Chile dan Amerika Latin lainnya sangat dekat dengan sesar-sesar aktif) 

Beruntunya gempa di Amerika ini tentu berkaitan dengan pergesaran pelat-pelat dunia yang lain karena pelat-pelat itu saling berhubungan satu sama lain. Ibarat permainan puzzel, menggeser satu tempat akan mengakibatkan kekosongan di tempat lain. Nah, puzzel ini sekarang baru bermain di Amerika. Apakah belahan dunia yang lain relative akan aman dari gempa besar? Wallahualam bis showab…

Kamis, 14 Januari 2010

ADAKAH TEMPAT YANG AMAN DARI GEMPA DI INDONESIA? (Safe Places from Earthquakes in Indonesia?)

Kondisi Tectonic Nusantara

Untuk dapat menjawab pertanyaan ini, kita harus melihat kondisi geology wilayah Indonesia dan sekitarnya. Secara geografis, wilayah Indonesia terletak di wilayah kepulauan yang kita sebut Nusantara atau archipelago. Suatu wilayah rangkaian pulau-pulau yang tersebar dari semenanjung Malaya ke Timur sampai ke Papua yang meliputi Malaysia, Singapura, Indonesia, Brunei dan Timor Leste. Pulau Papua (Irian Jaya dan Papua New Guinea) secara geologis sebenarnya adalah pulau yang bukan dari rangkaian archipelago melainkan bagian dari benua Australia.

Wilayah Indonesia (source: www.indonesian-intros.com)

Menurut teori geology, rangkaian nusantara ini terbentuk akibat kenaikan lapisan bumi oleh tumbukan pelat-pelat benua di sekitarnya, sehingga terbentuklah ribuan pulau yang unik yang tidak terdapat di bagian dunia lain di bumi ini. Paling sedikit ada empat pelat tektonik yang mempengaruhi terbentuknya pulau-pulau di nusantara yaitu Pelat Australia di Selatan, Pelat Eurasia di Baratlaut, Pelat Pacific di Timurlaut dan Pelat Philippine di Utara. Pelat tektonik Australia bergerak kearah Timur laut dengan kecepatan ±7cm per tahun, pelat Eurasia bergerak dengan kecepatan ±5cm ke arah Tenggara, Pelat Pacific bergerak kearah Baratlaut dengan kecepatan ±10cm per tahun, sementara pelat Philippine diperkirakan relative statis karena terjepit di antara dua pelat: Eurasia dan Pacific dari arah berlawanan.

Dengan kondisi tektonik seperti ini, wilayah nusantara adalah termasuk wilayah yang paling dinamis di dunia, dengan artian kondisi geology atau lapisan buminya selalu bergejolak yang ditandai dengan banyaknya bentukan permukaan akibat aktifitas tektonik berupa palung dan gunung berapi baik di darat ataupun di lautan. Palung adalah jurang memanjang di permukaan bumi sebagai akibat berpisahnya dua lapisan kerak bumi secara kontinyu sementara gunung berapi adalah titik dimana cairan bumi mempunyai jalan keluar akibat tekanan atau tabrakan pelat bumi di bawah (sekitarnya).

Di satu sisi lapisan bumi seperti ini akan menghasilkan lapisan tanah yang paling subur akibat aktifitas gunung berapi dan tanah yang gembur akibat lapisan tanah yang dinamis dan air tanah yang melimpah, di sisi lain bencana letusan gunung berapi dan gempa bumi selalu mengancam. Itulah konsekwensi positif dan negatif dari bumi nusantara ini, yang suka atau tidak memang harus diterima. Tuhan menghadiahkan tanah yang sangat subur, namun juga sekaligus memberikan resiko di dalamnya. Namun demikian manusia diberkahi dengan akal oleh Nya yang tentu diharapkan akan dapat digunakan untuk menyelesaikan segala permasalahan mereka.



Bagan kondisi wilayah sepanjang Sumatera, Jawa, dan NTT akibat pertemuan pelat Australia dan Eurasia (source?)

Kembali ke pertanyaan di atas; lalu apakah ada wilayah di Indonesia yang aman dari bencana gempa?

Ring of Fire

Jika kita berkunjung ke Google Earth, kita akan dapat melihat dengan sangat jelas garis-garis palung ataupun pegunungan baik di darat ataupun di laut. Garis-garis ini terbentuk sebagai akibat perpisahan atau pertemuan dua pelat benua. Untuk wilayah Indonesia, garis ini dapat dijumpai mulai dari Utara pulau Sumatera, bergerak ke Selatan menyusuri selatan pulau Sumatera, selatan pulau Jawa, selatan Nusa Tenggara, Celah Timor, hingga ke pedalaman laut Banda. Ini adalah akibat pertemuan pelat Australia dan Eurasia. Sementara di Utara kita bisa melihat jalur dari Timur Philipina ke bawah sampai ke Laut Banda dan kemudian berbelok ke Timur di atas pulau papua. Ini adalah jalur utama pertemuan Pelat Pacific, Phillipine dan Australia. Sehingga kawasan laut Banda dapat dikatakan tempat yang paling dinamis di dunia karena terdapat pertemuan sekaligus tiga pelat di dalamnya.

Garis-garis lain yang lebih kecil dapat kita jumpai di sekitar Laut China Selatan, Laut Sulawesi, dan sekitar Laut Irian. Wilayah-wilayah ini juga ditengarai sebagai wilayah yang dinamis karena banyak terdapat palung dan gunung berapi namun relatif lebih kecil jika dibanding garis utama di atas. Garis itu kita sebut Ring of Fire.

Wilayah garis bahaya Ring of Fire (merah dan kuning) dan wilayah yang relatif aman (putih). Source: from various sources, with Googleearth map

Wilayah yang aman

Untuk dapat menentukan wilayah yang relatif aman, tentu harus berada sejauh mungkin dari garis-garis tadi. Jika kita tarik garis sejauh 500km (perkiraan jarak yang aman dari pengaruh gempa bumi) dari garis-garis bahaya atau ring of fire tersebut dapat kita temukan wilayah-wilayah seperti dalam peta. Wilayah semenanjung Malaysia, sepenuhnya aman, Sumatera bagian utara yeng terdiri dari bagian Propinsi Riau, Kepulauan Riau, Bangka Belitung juga aman. Singapura dan Batam juga aman. Sebagian besar Pulau Kalimantan Tengah ke Barat termasuk Brunei juga aman. Hanya sebagian kecil Pulau Jawa di sekitar Gunung Murialah yang aman. Pulau-pulau kecil di antara tempat-tempat tadi juga aman di Laut Jawa.
Sebaliknya, wilayah Indonesia yang kita kenal selama ini sebagai tempat populasi penduduk terbesar melintas dari Pulau Sumatera bagian Utara, Barat, dan Selatan, sebagian besar Pulau Jawa termasuk Jakarta, Bali, NTT, hingga Ambon dan Sulawesi semua rawan terhadap gempa bumi. Oleh karena itu tidak salah kalau ada gagasan untuk memindahkan Ibu Kota ke Kalimantan Barat, atau Selatan. Karena disamping relatif berada di tengah (aman dari serangan militer dari luar dan kemudahan geografis), wilayah itu kemungkinan sangat kecil mendapat goyangan gempa besar.

Lalu apakah seluruh penduduk di wilayah-wilayah berbahaya itu perlu dipindahkan? Tentu saja tidak. Gempa adalah fenomena alam yang wajar. Mesin pembunuh yang sebenarnya bukanlah gempa itu sendiri namun bangunan yang digunakan manusia. Kesadaran dan kewaspadaan akan bahaya gempa dengan menerapkan sistem keselamatan dan bangunan yang aman adalah kunci untuk menghindarkan bahaya dan kerugian yang lebih besar baik benda ataupun nyawa.

Rabu, 13 Januari 2010

Haiti Earthquake...no more Killer Quake Please...

3 days after I wrote an Expectation for 2010 shocking news is coming now. Haiti has been stroke by big earthquake 7.3 Richter scale by 10 km depth epicenter. This earthquake seems very powerful and affected hardly to the region since the location of the centre also near to the capital Port-au-Prince. The quake hit at 5 p.m. (2200 GMT), and witnesses reported panic-stricken people running into the streets as offices, hotels, houses and shops collapsed.

The 7.3 magnitude quake - thought to be the most powerful to hit Haiti in more than 200 years. Unsurprisingly, the awareness of the people is assumed very least. From the news, most collapsed buildings are constructed from bricks wall with reinforced framing system. This even worst since this type of buildings are easily collapsed and hit the people inside. Some important buildings are also fallen down including (www.france24.com):

The presidential palace: Following the quake, it was seen in ruins, its domes collapsed on to flattened walls. President Rene Preval and his wife were said to be safe, according to Haiti’s ambassador to Mexico, but no further details were given on their whereabouts.

Hotel Montana: The luxury hotel that attracts tourists and business travellers collapsed; about 100 of its 300 guests have been evacuated.

The headquarters of the UN mission: The United Nations reported that many staff members in Haiti were unaccounted for after the five-storey building collapsed

Meanwhile....another earthquake of 6.2 Richter scale also stroke Manokwari Papua Indonesia, (0.83 S - 133.36 E) by 26 Km depth less than an hour ago. Fortunately, according to the report, no casualty has been found.

Back to the expectation for 2010, hopefuly this catastrophe will be the last earthquake disasster in 2010 (and forward of course....)

Senin, 11 Januari 2010

AMANKAH HUNIAN PASCA GEMPA BUMI DENGAN BETON BERTULANG? (Is Reinforced Concrete Structure Safe for Post Earthquake Housing?)

Untuk kasus di Yogyakarta, sampai saat ini belum ada yang berani berpendapat bahwa seratus persen bangunan akan aman dari kemungkinan ancaman gempa yang sama dengan gempa 27 Mei 2006 lalu. Namun paling tidak, sebagian besar fihak-fihak berkompeten telah yakin bahwa bangunan rekonstruksi ataupun bangunan baru pasca gempa 2006 lebih baik kualitasnya. Hal ini tentu tidak dapat diingkari karena pada kenyataannya bangunan-bangunan tersebut telah dibuat dengan menggunakan konstruksi yang lebih up to date.

Permasalahannya adalah dengan tingginya keyakinan berbagai fihak termasuk penghuni,seharusnya tidak mengurangi tingkat kewaspadaan terhadap kemungkinan bahaya yang sama di masa depan. Mengingat lokasi Pulau Jawa khususnya dan Indonesia pada umumnya sangat mungkin untuk mendapat serangan gempa sewaktu-waktu yang menurut beberapa sumber hingga 3000-5000 kali terjadi gempa setiap tahunnya di Indonesia baik terasa ataupun tidak.

Tulangan rangka beton pada sloof dan kolom

Dapat dikatakan, dari sisi masyarakat pengguna rumah, penggunaan material beton bertulang telah ditangkap sebagai sebuah jaminan akan keamanan mereka dari bahaya gempa. Hal ini dapat difahami mengingat sebelumnya sebagian besar rumah yang runtuh hanya menggunakan pasangan bata (masonry) tanpa rangka beton bertulang. Opsi yang lain dengan rumah baja ataupun kayu dianggap terlalu mahal, atau juga terlalu rendah (konstruksi bambu). Apalagi jika mereka juga menyaksikan betapa bagus campuran beton dan besar diameter tulangan yang mereka gunakan. Jaminan keselamatan sepertinya dianggap taken for granted, dengan sendirinya akan mereka dapatkan.

Rumah dengan rangka beton bertulang

Sayangnya, factor keamanan sebuah bangunan dari gempa tidak cukup dilihat dari sisi penggunaan material ‘yang kuat’ saja. Mulai dari lokasi, disain bangunan, disain system struktur, ketepatan konstruksi, proses konstruksi, ketepatan penggunaan jenis material, hingga penggunaan bangunan semuanya akan sangat mempengaruhi tingkat keamanan bangunan dan penggunanya.

Kuda-kuda beton bertulang yang populer

Faktor Lokasi
Faktor lokasi secara umum tidak akan dapat diselesaikan kecuali dengan berpindah tempat dari zona bahaya ke daerah yang relative lebih aman. Transmigrasi massal atau bedol kampung adalah solusi yang tidak mudah untuk diterapkan, walau ini juga telah dilakukan Pemerintah Daerah Bantul misalnya dengan mengirimkan kurang lebih 400 KK tahun 2009 lalu. Akan tetapi mengingat masih terlalu padatnya populasi penduduk dearah sekitar, solusi lain tentu sangat diperlukan. Salah satu pemikiran yang juga patut dihargai adalah dengan usulan memperkecil dampak goncangan dengan menambahkan media buffer atau peredam seperti dasar pasir pada seluruh bangunan.

Disain Bangunan
Disain bangunan yang aman terhadap gempa adalah bentuk yang sederhana. Untuk rumah-rumah rekonstruksi atau rumah baru pasca gempa, bentuk bangunan memang sederhana. Hal ini baru bermasalah ketika proses penambahan bangunan dilakukan penghuni seiring dengan pertambahan kebutuhan mereka. Bangunan yang semula sederhana menjadi kompleks baik dari sisi bentuk ataupun layout (denah). Biarpun telah menggunakan material beton bertulang dengan tulangan sebesar “linggis” pun, bentuk bangunan rumit akan tetap rentan terhadap goncangan gempa. Belum lagi jika dilihat kualitas ‘sambungan’ antara bangunan lama dan baru.

Sistem Struktur
Sistem struktur yang benar tentu harus sesuai dengan sifat material yang digunakan. Struktur kayu prinsipnya fleksibel, kebalikan dengan system struktur beton bertulang yang harus kaku. Menggunakan material baru beton bertulang dengan anggapan atau cara yang lama (terhadap kayu) seharusnya tidak dilakukan. Sayangnya masyarakat terbukti banyak melakukan ini misalnya dengan mengganti kuda-kuda kayu dengan kuda-kuda beton persis dengan cara yang sama, padahal kedua sifat material tersebut berbeda. Kuda-kuda kayu seharusnya bebas bergerak dengan tumpuan fleksibel (roll dan sendi) sedangkan beton bertulang harus kaku, berhubungan mati dengan kolomnya. Atau juga dengan membentuk rangka beton yang seolah-olah dianggap kayu dengan bentuk kuda-kuda. Kasus tersebut justeru akan sangat berbahaya bagi penghuni karena rangka beton sangat berat dan mudah jatuh, jika dipasang dengan cara yang tidak benar.

Konstruksi
Ketepatan konstruksi juga menjadi faktor penting bagi keselamatan pengguna bangunan. Banyak kasus bangunan rumah beton betulang di Bantul yang tetap saja memakan korban karena lemahnya dinding terhadap kolom misalnya. Dinding bata yang berat akan mudah runtuh jika tidak dipasang dengan angkur yang cukup, atau dinding terlalu lebar (kolom praktis jarang).

Pelaksanaan
Proses konstruksi di lapangan juga dapat mempengaruhi keamanan bangunan walapun secara kasat mata bangunan menggunakan material yang bagus. Mulai dari proses pencampuran bahan hingga cara pemasangan akan sangat penting diperhatikan. Meskipun dengan campuran semen yang banyak, akan tetapi jika cara mengaduknya tidak rata, atau kurang air misalnya, beton akan lebih getas. Demikian pula dengan sambungan beton bertulang tanpa overlap dan tekukan tentu akan sangat rentan lepas. Jika semua aspek memenuhi tapi pelaksanaan di lapangan tidak diperhatikan, bangunan tetap dalam bahaya.

Pemilihan Material
Ketepatan material juga secara langsung mempengaruhi keselamatan bangunan dan penghuninya. Kembali ke salah satu kasus di atas misalnya, kuda-kuda kayu yang ringan tentu lebih diutamakan ketimbang kuda-kuda beton yang berat, walaupun secara awam menganggap ‘beton lebih kuat dari kayu’. Sebab jika terjadi goncangan, bagaimnapun benda yang berat berpotensi jatuh lebih besar mengikuti hukum Newton kedua F=MA. Apalagi jika desain struktur dan konstruksinya kurang benar.

Penggunaan Bangunan
Begitu juga dengan penggunaan bangunan. Penataan furniture walaupun tidak terlalu significant membebani struktur (seperti lampu gantung yang berat atau rak buku di dinding) akan tetap mempengaruhi kondisi saat gempa. Mungkin saja bangunan tetap berdiri namun lampu atau rak tersebut dapat jatuh menimpa penghuni. Demikian juga dengan penempatan lemari berat yang dapat ambruk sehingga menghambat penghuni. Semua ini akan mempengaruhi tingkat keamanan sebuah bangunan.

Kesimpulan
Banyak hal yang mesti diperhatikan untuk menjamin keselamatan bangunan dan penghuninya jika terjadi gempa. Anggapan-anggapan yang masih kurang benar terutama dengan penggunaan material dan system struktur masih perlu ditinjau lagi. Study lebih lanjut masih diperlukan untuk meyakinkan tingkat keamanan bangunan dan penghuninya terhadap gempa.
Bagaimana pendapat anda??? Salam….

Minggu, 10 Januari 2010

MENGAPA RUMAH JAWA MUDAH RUNTUH PADA GEMPA 2006? (Why Javanese Houses were Easily Collapsed on the 2006 Earthquake?)

Pengantar:
Tulisan ini adalah permulaan dari study saya, mengapa begitu mudahnya rumah Jawa runtuh pada gempa 2006 sehingga memakan banyak korban?
Dugaan:
Beberapa alasan di bawah ini menjadi dugaan saya untuk melakukan study ini yang masih perlu dibuktikan dengan metode ilmiah. Ada dua hal faktor utama penyebab ‘gagalnya’ rumah Jawa yaitu dari gempa dan lingkungan sebagai faktor eksternal dan rumah itu sendiri sebagai factor internal yang akan banyak dipengaruhi beberapa hal:

1. Gempa 27 Mei 2006 terjadi dengan pusat yang sangat dekat dengan pemukiman
Walaupun gempa tersebut ‘hanyalah’ dengan kekuatan magnitude 5.9 (BMG) atau 6.2 (USGS), namun pusat gempa berada dekat dengan pemukiman penduduk dan berada relative dangkal dengan kedalaman 10km. Dengan dekatnya sumber gempa terhadap obyek akan lebih besar intensitas yang ditimulkannya sebesar VIII-IX MMI (Modified Merchali Intensity). Suatu ukuran yang diterapkan pada akibat yang ditimbulkan pada daerah pengaruh gempa, bukan pada pusatnya seperti Sekala Ritcher.

2. Kondisi geology kawasan yang mendukung penyebaran energy gempa dengan mudah.
Bantul dan Klaten terletak di daerah yang relative subur dibandingkan dengan Gunung Kidul. Jika kita tarik garis dari Bantul ke Klaten, daerah ini sebenarnya berada di atas patahan Opak yang secara otomatis berada di daerah dengan kondisi tanah yeng gembur. Sayangnya kondisi ini menghasilkan tanah relative lebih subur jika dibanding dengan Gunung Kidul yang tanahnya terdiri dari lapisan bebatuan kapur (karts). Sehingga tidak heran jika banyak pemukiman padat di atasnya. Jika terjadi gempa, bangunan-bangunan di daerah ini akan lebih mudah mendapat pengaruh yang lebih besar. Oleh sebab itulah di daerah Klaten dan Bantul terdapat bangunan runtuh yang lebih banyak disbanding daerah lain.

3. Rumah-rumah orang Jawa terdiri dari rumah yang sudah tidak sesuai dengan kondisi alam
Rumah orang Jawa selalu berubah sesuai dengan perkembangan jaman. Sayangnya perubahan itu lebih banyak dipengaruhi oleh factor eksternal seperti perubahan pandangan hidup dan kondisi ekonomi. Secara tradisional, rumah orang Jawa merupakan rumah kayu (gebyok) yang terdiri dari beberapa jenis seperti Joglo, Limasan, atau Kampung. Jaman silih berganti, perubahan pada material dilakukan seperti mengganti gebyok atau gedek dengan dinding batu bata. Mengganti kolom kayu dengan beton bertulang dan sebagainya. Perubahan ini akan secara langsung mempengaruhi kinerja rumah terhadap kondisi alam seperti gempa.

4. Gempa sudah lama tidak terjadi sebelum 2006.
Jika gempa terjadi secara periodic, menurut teori geology tidak akan menghasilkan gempa yang berukuran besar. Sayangnya sebelum 2006, hamper tidak pernah terjadi sejak tahun 1943. Rentang waktu 60-an tahun itu sudah cukup untuk mengumpulkan energy potensial yang cukup untuk menghasilkan gempa besar.
Dari sisi manusianya, gempa yang telah lama tidak terjadi telah menurunkan tingkat kewaspadaan mereka terhadap kesalamatan bangunan yang mereka huni. Bukan hanya karena alasan ekonomi saja, penerapan konstruksi yang tidak benar juga karena ketidak sadaran masyarakat terhadap bahaya potensi ancaman gempa.

So, dengan alasan –alasan itulah rumah orang Jawa mudah hancur diterjang gempa 2006. Ada pendapat lain???

Sabtu, 09 Januari 2010

HARAPAN UNTUK 2010 (Expectation for 2010)

Menengok ke 20 tahun terakhir, catatan sejarah bumi ini sepertinya semakin menghawatirkan saja. Bukan bermaksud menakut-nakuti....tapi sejak 1990 selalu ada saja bencana gempa bumi di tiap tahunnya yang memakan banyak korban. Menurut data USGS, gempa-gempa besar tidak pernah absent semenjak 1990 - 2009 silam. Tercatat 20 gempa besar meluluh lantakkan 20 tempat di muka bumi yang 5 di antaranya terjadi di Indonesia.

Coba cek link ini:
http://earthquake.usgs.gov/earthquakes/eqarchives/year/byyear.php

Fakta ini tentunya membuat miris kita sebagai bangsa Indonesia. Selain diberkati dengan segala sumber daya alam yang melimpah, di bumi nusantara ini ancaman gempa juga tidak kalah banyaknya. Kabar buruknya, frekwensi kejadian gempa itu semakin sering di tahun-tahun terakhir ini.

Semoga di tahun 2010 tidak terjadi lagi gempa-gempa yang menelan banyak korban baik benda ataupun nyawa. Sebagai konsekuensi alam, tentunya gempa boleh saja terjadi, tapi kita juga berharap agar gempa itu tidak akan sampai menghasilkan banyak kerugian. Menurut ilmu geologi, kabar baiknya, justeru semakin sering terjadi gempa, akan semakin baik karena energi yang dilepaskannya akan semakin kecil.




Earthquake Density Map (USGS)

Dan...semoga bencana senantiasa dijauhkan dari kita....."2010 tanpa bencana"