Tampilkan postingan dengan label Architecture. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Architecture. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 13 November 2010

MENGAPA RUMAH JAWA BANYAK RUNTUH PADA GEMPA 2006 ?


Secara umum faktor penyebab banyaknya kegagalan rumah Jawa dapat dipengaruhi oleh: kedekatan pusat gempa, formasi geologi wilayah setempat, tingkat kepadatan penduduk yang tinggi, dan konstruksi yang tidak sempurna (Idham, N, 2010a et.al)

Pusat Gempa Berada Relatif Sangat Dekat dan Dangkal dengan Objek Rumah Jawa

Menurut sumber USGS, gempa 2006 mempunyai kekuatan 6,2 skala Ritcher dengan pusat gempa pada 7,96° LS, 110,46° BT dengan kedalaman 10 km. Pusat gempa terletak di darat tepatnya di muara Sungai Opak sekitar 20 km dari Yogyakarta dengan kedalaman yang dangkal. Ini berarti bahwa sumber gempa berada di lokasi rumah Jawa berada (Kabupaten Bantul DIY). Posisi epicenter ini sangat berpengaruh terhadap afek yang diakibatkan pada suatu wilayah. Kekuatan gempa dan efeknya terhadap bangunan akan kurang berarti jika pusat gempa jauh dari sumber energi. Beberapa saat setelah gempa bumi tersebut, sebenarnya telah diikuti oleh gempa lain seperti gempa 7,0 SR di selatan Provinsi Jawa Barat pada tanggal 2 September 2009 dengan jarak pusat gempa 195 km dari Jakarta dengan kedalaman 46,2 km atau di lautan Indonesia (USGS 2009a). Gempa tersebut terbukti 'hanya' menyebabkan 57 orang meninggal dunia dan 300 korban luka-luka serta sekitar 10.000 rumah rusak. Gempa ini juga dirasakan dari Yogyakarta dan Jawa Tengah tetapi tidak berpengaruh atau sedikit, jika ada, terhadap bangunan-bangunan di sana. Gempa bumi yang lain juga terjadi pada 13 November dengan kekuatan 5.4 SR 360 km dari Jakarta dengan kedalaman 41 km (USGS 2009b). Gempa terakhir ini sama sekali tidak memakan korban jiwa dan menimbulkan kerusakan bangunan. Berkaitan dengan pengaruh terhadap bangunan, skala MMI lebih berguna dalam mengukur dampak gempa pada karena berdasarkan pengaruh langsung di daerah tersebut. Jika gempa bumi 2006 Jawa telah VIII-IX, sedangkan September 2, 2009 Jawa Barat hanya gempa VI-VII MMI.

Kondisi Geologi dan Pengaruhnya terhadap Bangunan

Alih-alih menyebarkan ke situs sekitarnya dengan cara radial, gempa bumi 2006 Jawa memiliki pengaruh yang berbeda di beberapa wilayah berkaitan dengan kondisi geologi tanah setempat. Tanah lunak relatif mudah meneruskan dan menguatkan gelombang (S wave dan surface wave) dari pusat gempa. Mennurut MAE percepatan puncak horisontal di wilayah tersebut mencapai 0,20 - 0.34g dan pergerakan vertikal diperkirakan 0,18 ~ 0.30g yang dikategorikan sangat tinggi (Elnashai AS, et.al, 2007). Sebagai hasilnya, bangunan yang terletak di dekat garis sungai atau tanah basah akan terpengaruh lebih ketimbang di tempat lain. Dari data gempa 2006, walaupun relatif dekat daerah pusat gempa, Gunung Kidul mendapatkan efek relatif kecil karena tanahnya lebih kaku dari batu kapur. Di lain sisi, daerah yang lebih jauh seperti Kabupaten Klaten terdapat lebih banyak rumah yang runtuh karena terdiri dari sebagian besar tanah pertanian yang basah. Dengan demikian, sebagai konsekuensi dari lahan pertanian yang gembur, Bantul dan Klaten akan lebih terancam dari bencana gempa bumi dibandingkan dengan daerah sekitarnya. Daerah tanah gembur dan basah membentang dari Bantul ke Klaten ini secara geology dikenal sebagai garis cesar Opak.

Kepadatan Penduduk Sangat Tinggi

Pulau Jawa adalah wilayah berpenduduk terpadat di dunia dengan 979/km². Kabupaten Bantul di mana banyak rumah runtuh di gempa 2006, adalah salah satu di antaranya yang merupakan daerah terpadat di Jawa dengan populasi 831.955 226.777 yang tinggal di rumah di wilayah 506,85 km² atau 1641.4/km² penduduk dan 447,4 rumah di setiap km² (DEPKES 2007). Ketika gempa 2006 menggoncang, 148.440 dari 218.345 rumah (67,9%) di Bantul tidak dapat ditempati lagi atau rusak parah dan runtuh (BAPPENAS 2006).

Struktur Rumah yang Sangat Lemah dan dibangun Tanpa Pertimbangan terhadap Bahaya Gempa

Walaupun rumah Jawa tradisional asli dibangun dengan material kayu, namun pada kenyataannya akhir-akhir ini batubatalah material utama konstruksi bangunan. Menurut Boen (2006), rumah-rumah runtuh dari Jawa 2006 sebagian besar dibangun oleh batu bata baik dengan atau tanpa rangka beton bertulang. Pasangan bata yang lemah merupakan faktor utama penyebab runtuhnya bangunan sedangkan untuk bangunan yang lebih baru dengan rangka beton bertulang; detail hubungan yang tidak benar merupakan aspek paling banyak penyebab kegagalan struktural. Hal ini terutama dikarenakan karena kurangnya pertimbangan bahaya gempa sejak 1943 ketika gempa bumi besar untuk terakhir kalinya, sebelum itu terjadi lagi pada tahun 2006.

Gambar. Perubahan Struktur dan konstruksi Rumah Jawa dari Kayu ke Batubata

Bangunan dengan konstruksi dinding bata telah digunakan secara luas untuk rumah sejak Pulau Jawa diduduki Belanda di awal abad ke-17 hingga masa sekarang (Prijotomo, 1996). Bahkan untuk sebagian besar penduduk Jawa, rumah dinding bata telah digunakan sebagai simbol status sosial keluarga pemilik (Koentjaraningrat, 1984). Sayangnya, konsep baru yang dibawa Belanda yang memang tidak berpengalaman sama sekali terhadap gempa itu, telah diikuti tanpa pertimbangan bahaya gempa. Selanjutnya, keterbatasan ekonomi masyarakat dan kurangnya kesadaran bagaimana pembangunan yang tepat juga telah berkontribusi terhadap penyebab lemahnya konstrukci pembangunan rumah. Konstruksi yang kurang tepat tersebut sayangnya menyebabkan hilangnya begitu banyak nyawa dan materi pada gempa 2006 lalu.

Berdasarkan Paper:


Idham, N, Mohd, M and Numan, I (2010a) ”Why The Javanese Houses Have Failed In The 2006 Earthquake”, in proceeding of the International Conference on Sustainable Built Environment (ICSBE 2010) pp.121-128. Faculty of Civil Engineering and Planning, Islamic University of Indonesia, August 2010.

Minggu, 31 Oktober 2010

APAKAH RUMAH RANGKA BETON PALING AMAN UNTUK RUMAH TAHAN GEMPA (2)

Di tengah kesibukan (dan kejenuhan!) saya menulis thesis S3 saya, saya mencoba kembali mengisi blog ini sekedar agar tidak terabaikan dan mengisi waktu jenuh saya yang memang sedang jauh dari anak istri ini (…ehem). Topik saya kali ini tidak jauh dengan tema thesis yang saya sedang kerjakan, rumah tradisional Jawa dan kaitannya dengan gempa bumi.

STIFFNESS, STRENGTH, dan DUCTILITY

Sebagai akibat gempa bumi Bantul 2006 lalu, banyak bangunan entah itu yang disebut dengan bangunan tradisional atau bangunan modern, sebagian besar hancur luluh lantak diterjang gempa. Segera setelah itu, pemerintah dan ratusan donatur membangun kembali hunian di bantul dan sekitarnya dengan rumah baru melalui program rekonstruksi. Jenis rumah rekonstruksi yang popular dan banyak dibangun ketika itu adalah rumah tembok batubata dengan rangka beton bertulang. Rumah seperti ini dianggap yang paling aman atau paling tepat untuk mengantisipasi gempa kelak kemudian hari. Rumah-rumah sebelumnya, terutama rumah tradisional, banyak dianggap kurang sesuai untuk bangunan tahan gempa. Maka berbondong-bondonglah masyarakat Bantul dan sekitarnya membangun rumah mereka dengan jenis beton bertulang ini yang memang sebelumnya kurang banyak dipakai, terutama masyarakat pedesaan yang dulu masih akrab dengan rumah batubata atau rumah kayu baik ‘gedhek’ atau ‘gebyok’. Kini sudah dapat dipastikan ketika anda berkunjung ke Bantul, rumah tempo doeloe ala rumah Jawa Limasan yang banyak dipakai di Bantul sebelumnya sudah tinggal kenangan.

Sekedar untuk diketahui, bahwa rumah batubata rangka beton memang menjadi salah satu solusi membangun rumah aman terhadap gempa tapi bukanlah yang teraman diantara pilihan yang ada. Mengingat sifat dari rangka beton dinding bata ini mengandalkan prinsip stiffness dan strength tentunya ketimbang ductile. Prinsip bangunan tahan gempa memang seharusnya mencakup tiga hal tersebut. Stiffnes adalah prinsip ketahan bangunan terhadap goncangan sehingga bangunan tidak berubah bentuk, sementara strength adalah prinsip kekuatan bangunan maksimal terhadap gempa sehingga selalu dikaitkan dengan ketahanan menerima beban. Smentara ductile lebih berkaitan dengan daya tahan bangunan untuk berubah bentuk (flexible, plastis), atau menyerap gaya, sesuai beban yang ada. Prinsip stiffness ini lebih aplikable pada bangunan dengan materi berat seperti batu bata dan beton yang sifatnya rigid atau kaku dan tidak fleksible. Sementara ductile lebih cocok kalau menggunakan material seperti kayu dan baja.

Sayangnya, prinsip bangunan yang mengutamakan stifness hanya cocok diaplikasikan untuk daearah yang mempunyai resiko gempa kecil mengingat daya tahan terhadap guncangan akan relative rendah. Hal ini diperparah dengan beban bangunan yang tinggi jika menggunakan material seperti batu bata dan beton bertulang. Beban yang tinggi disamping plastisitasnya relative rendah juga rentan terhadap bahaya guling karena gaya lateral atau horizontal akibat gempa. Ini juga sangat berbahaya jika digunakan sebagai bangunan hunian jika runtuhan elemen akan menimpa penghuni dibawahnya relative lebih ‘mematikan’ ketimbang material ringan seperti kayu. Apalgi jika kualitas pelaksanaan juga rendah, maka resiko terhadap gempa akan sangat tinggi.

Hal inilah yang mengusik pikiran saya selama ini. Rumah-rumah baru di Bantul telah dibangun sepernuhnya dengan menggunakan batu bata dan beton bertulang. Terlepas apakah pelaksanaannya benar atau belum, penggunaan jenis material ini memang masih menghawatirkan untuk daerah rawan gempa seperti di Bantul. Rumah-rumah dengan prinsip ductile yang tinggi mestinya lebih aman dan lebih ditekankan ketimbang beton bertulang yang lebih rigid dan brittle ini. Walaupun sementara pendapat mengatakan akan sangat mahal jika menggunakan kayu, tapi beton bertulang apakah juga bukan bahan bangunan yang mahal saat ini? Dan mungkin jangan dilupakan, potensi penggunaan kayu local seperti glugu ataupun bamboo juga masih dapat ditingkatkan. Dan satu lagi, dengan membangun rumah-rumah berbahan dasar kayu kita juga akan kembali melestarikan rumah tradisioal jawa yang sebelumnya banyak dipakai (nanti akan kita bahas mengapa rumah tradisioal banyak runtuh di gempa 2006 di Jawa).

Jumat, 16 April 2010

MELONGOK KEMBALI SALAH SATU SUDUT ISTANBUL: Mesjid Suleymani dan Mesjid Rustam Pasha

Baru-baru ini saya berkesempatan keluyuran sekali lagi ke Istanbul Turkey. Kunjungan ini bermula berkat undangan Dr. Ruzardi dan Ibu Hastuti untuk jadi guide mereka cuci mata di Istanbul, setelah mereka menyelesaikan kunjungan kerja dari UII (Universitas Islam Indonesia) ke EMU (Eastern Mediterranean University) North Cyprus, universitas tempat saya belajar kini.

Setelah menunggu beberapa lama di Attaturk Airport terminal di Istanbul, akhirnya kami menuju hotel tempat kami menginap dengan melalui Metro Tram Istanbul di daerah kota lama Istanbul di kawasan Beyazit. Di sekitar inilah tempat2 penting Istanbul lama berada, antara lain yang terkenal adalah Istana Topkapi, Mesjid Biru Sultan Ahmed, Mesjid Suleymani, Grand Bazaar, dan sebagainya. Juga beberapa peninggalan penting sebelum era Kesultanan Ustmaniah (Ottoman) seperti Hagia Shopia, Kolom Konstantin, dsb sebagai symbol-symbol kejayaan Konstatinopel sebelum menjadi Istanbul pada abad pertengahan.

Saya tidak akan banyak membahas tempat2 yang sudah umum terkenal di Istanbul tersebut kali ini, namun ada dua mesjid yang menarik perhatian saya yaitu Masjid Suleymani dan Mesjid Rustam Pasha:


Tram di kawasan Kota Lama Istanbul (photo: Ummit Tuncay)

MESJID SULEYMANI

Mesjid Suleymani adalah mesjid terbesar kedua dan sangat penting bagi Kesultanan Utsmani. Mungkin kedengaran sedikit tidak seterkenal dengan Mesjid Sultan Ahmed atau yang biasa dikenal dengan Blue Mosque yang terletak berderetan dengan Hagia Shopia (Aya Sofia) dan Istana Topkapi. Letak Mesjid Suleyman berada di bukit di tengah-tengah semenanjung Istanbul yang sekaligus di tempat paling tinggi di area ini. Secara arsitektural, mesjid ini sangat penting yang mengilhami mesjid-mesjid yang lain termasuk Sultan Ahmed di sekitar area ini. Mesjid ini dibangun oleh Sultan Suleyman I dan merupakan karya arsitek terkenal Mimar Sinan yang dibangun sekitar 1550-1558 M. Menurut sejarah, keberadaan mesjid Suleymani ini sebagai jawaban Sultan Suleyman ketika itu atas Hagia Shopia yang sebenarnya dibangun oleh bangsa Byzantine yang sesungguhnya merupakan gereja. Mesjid ini juga sekaligus dibuat untuk menunjukan kebesaran Sultan Suleyman I sebagai penerus Nabi Suleyman dan menyebut dirinya the Second Solomon atas Nabi Suleyman yang terkenal dengan Dome of the Rock-nya di Israel kini.

Mesjid ini pernah runtuh sebagian kubahnya akibat gempa tahun 1766 di Istanbul yang sayangnya merusak sebagian dekorasi utama masjid. Sayang ketika saya di sana juga baru diadakan renovasi sehingga saya tidak berkesampatan masuk ke dalamnya. Namun saya cukup terhibur dapat mengunjungi makam Sultan Suleyman sebagai tokoh penyebar Islam utama dan salah satu sultan terpenting di Dinasty Ustmaniah .

Mesjid Suleymani dengan Latar Depan Jembatan Galata (Ingat Galata Saray kan? itu deket sini) dari Arah Perairan Golden Horn

Salah Stau gerbang Mesjid Suleymani

Jalan Depan Mesjid Suleymani

Mesjid Suleymani yang Baru di Renovasi

Makam Sultan Suleyman

Interior Makam Sultan Suleyman dan Kerabatnya

MESJID RUSTAM PASHA

Diantara sekian banyak peninggalan itu, ada satu mesjid yang tidak begitu besar namun sangat bernilai karena mempunyai peninggalan keramik dari era Kesultanan Ustmani yang menggunakan keramik Iznik (periode 1555-1620)di seluruh dindingnya yang tidak akan dijumpai di mesjid-mesjid lainnya di Istanbul. Mesjid ini adalah Mesjid Rustam Pasha. Mesjid ini juga merupakan karya Mimar Sinan yang dibangun sekitar 1561-1563 atas perintah Sultan Suleyman yang didedikasikan untuk Sultan Rustam Pasha, menantu dari Sultan. Saking berharganya keramik2 itu, mesjid dijaga 24 jam penuh oleh fihak keamanan Turky untuk menghindari pencurian yang dahulu marak dilakukan untuk dijual ke koleksi barang antic di pasar gelap Eropa.
Bagian Serambi dan Interior Mesjid Rustam Pasha

Mihrab Mesjid Rustam Pasha yang Penuh dengan Keramik Antik

Bagian Atas Interior Masjid


Minggu, 17 Januari 2010

ARSITEKTUR INDONESIA? (Indonesian Architecture?)

Asitektur Indonesia terdiri dari klasik-tradisional, vernakular dan bangunan baru kontemporer. Arsitektur klasik-tradisional adalah bangunan yang dibangun oleh zaman kuno. Arsitektur vernakular juga bentuk lain dari arsitektur tradisional, terutama bangunan rumah hunian, dengan beberapa penyesuaian membangun oleh beberapa generasi ke generasi. Arsitektur Baru atau kontemporer lebih banyak menggunakan materi dan teknik konstruksi baru dan menerima pengaruh dari masa kolonial Belanda ke era pasca kemerdekaan. Pengenalan semen dan bahan-bahan modern lainnya dan pembangunan dengan pertumbuhan yang cepat telah menghasilkan hasil yang beragam.

Arsitektur Klasik Indonesia
Ciri khas arsitektur klasik Indonesia dapat dilihat paada bangunan candi dengan struktur menaranya. Candi Buddha dan Hindu dibangun dari batu, yang dibangun di atas tanah dengan cirikhas piramida dan dihiasi dengan relief. Secara simbolis, bangunan adalah sebagai representasi dari Gunung Meru yang legendaris, yang dalam mitologi Hindu-Buddha diidentifikasi sebagai kediaman para dewa. Candi Buddha Borobudur yang terkenal dari abad ke-9 dan Candi Prambanan bagi umat Hindu di Jawa Tengah juga dipenuhi dengan gagasan makro kosmos yang direpresentasiken dengan sebuah gunung. Di Asia Timur, walau dipengaruhi oleh budaya India, namun arsitektur Indonesia (nusantara) lebih mengedapankan elemen-elemen masyarakat lokal, dan lebih tepatnya dengan budaya petani.

Budaya Hindu paling tidak 10 abad telah mempengaruhi kebudayaan Indonesia sebelum pengaruh Islam datang. Peninggalan arsitektur klasik (Hindu-Buddha) di Indonesia sangat terbatas untuk beberapa puluhan candi kecuali Pulau Bali yang masih banyak karena faktor agama penduduk setempat.

Arsitektur vernakular di Indonesia
Arsitektur tradisional dan vernakular di Indonesia berasal dari dua sumber. Pertama adalah dari tradisi Hindu besar dibawa ke Indonesia dari India melalui Jawa. Yang kedua adalah arsitektur pribumi asli. Rumah-rumah vernakular yang kebanyakan ditemukan di daerah pedesaan dibangun dengan menggunakan bahan-bahan alami seperti atap ilalang, bambu, anyaman bambu, kayu kelapa, dan batu. Bangunan adalah penyesuain sepenuhnya selaras dengan lingkungan sekitar. Rumah-rumah di pedalaman di Indonesia masih banyak yang menggunakan bambu, namun dengan seiring dengan proses modernisasi, bangunan-bangunan bambu ini sedikit demi sedikit diganti dengan bangunan dinding bata.


Arsitektur tradisional di Indonesia

Bangunan vernakular yang tertua di Indonesia saat ini tidak lebih dari sekitar 150 tahun usianya. Namun dari relief di dinding abad ke-9 di candi Borobudur di Jawa Tengah mengungkapkan bahwa ada hubungan erat dengan arsitektur rumah vernakular kontemporer yang ada saat ini. Arsitektur vernakular Indonesia juga mirip dengan yang dapat ditemukan di seluruh pulau-pulau di Asia Tenggara. Karakteristik utamanya adalah dengan digunakannya lantai yang ditinggikan (kecuali di Jawa), atap dengan kemiringan tinggi menyerupai pelana dan penggunaan material dari kayu dan bahan organik tahan lama lainnya.

Pengaruh Islam dalam Arsitektur
Budaya Islam di Indonesia dimulai pada tahun 13 Masehi ketika di Sumatra bagian utara muncul kerajaan Islam Pasai di 1292. Dua setengah abad kemudian bersama-sama juga dengan orang-orang Eropa, Islam datang ke Jawa. Islam tidak menyebar ke kawasan Indonesia oleh kekuatan politik seperti di India atau Turki namun lebih melalui penyebaran budaya. Budaya Islam pada arsitektur Indonesia dapat dijumpai di masjid-masjid, istana, dan bangunan makam.

Menurunnya kekuatan kerajaan Hindu Majapahit di Jawa menandai bergantinya periode sejarah di Jawa. Kebudayaan Majapahit tersebut meninggalkan kebesarannya dengan dengan serangkaian candi-candi monumental sampai abad keempat belas. Meskipun demikian, tidak berarti bahwa "Zaman Klasik" di Jawa ini kemudian diganti dengan zaman "biadab" dan juga bukanlah awal dari "Abad Kegelapan". Selanjutnya kerajaan-kerajaan Islam melanjutkan budaya lama Majapahit yang mereka adopsi secara jenius. "New Era" selanjutnya menghasilkan ikon penting seperti masjid-masjid di Demak, Kudus dan Banten pada abad keenam belas. Juga dengan situs makam Imogiri dan istana-istana Yogyakarta dan Surakarta pada abad kedelapan belas. Fakta sejarah menunjukkan bahwa Islam tidak memperkenalkan bentuk-bentuk fisik baru dan ajaran-ajarannyapun diajarkan lebih dalam cara-cara mistis oleh para sufi, atau dengan kata lain melalui sinkretisme, sayangnya hal inilah yang mempengaruhi ‘gagal’nya Islam sebagai sebuah sistem baru yang benar-benar tidak menghapuskan warisan Hindu ( lihat Prijotomo, 1988).


Masjid Kudus dengan Gaya Hindu untuk Drum Tower dan Gerbang

Penyebaran Islam secara bertahap di kawasan Indonesia dari abad ke-12 dan seterusnya dengan memperkenalkan serangkaian penting pengaruh arsitektur. Namun, perubahan dari gaya lama ke baru yang lebih bersifat ideologis baru kemudian teknologi. Kedatangan Islam tidak mengarah pada pengenalan bangunan yang sama sekali baru, melainkan melihat dan menyesuaikan bentuk-bentuk arsitektur yang ada, yang diciptakan kembali atau ditafsirkan kembali sesuai persyaratan dalam Islam. Menara Kudus, di Jawa Tengah, adalah contoh dalam kasus ini. Bangunan ini sangat mirip dengan candi dari abad ke-14 di era kerajaan Majapahit, menara ini diadaptasi untuk kepentingan yang lebih baru dibangun masjid setelah runtuhnya kerajaan Majapahit. Demikian pula, masjid-masjid di awal perkembangan Islam di Indonesia murni terinspirasi dari tradisi bangunan local yang ada di Jawa, dan tempat lain di Nusantara, dengan empat kolom utama yang mendukung atap tengahnya. Dalam kedua budaya ini empat kolom utama atau Saka Guru mempunyai makna simbolis.

Gaya Belanda dan Hindia Belanda
Pengaruh Barat di mulai jauh sebelum tahun 1509 ketika Marco Polo dari Venesia melintasi Nusantara di 1292 untuk kegiatan perdagangan. Sejak itu orang-orang Eropa berusaha untuk merebut kendali atas perdagangan rempah-rempah yang sangat menguntungkan. Portugis dan Spanyol, dan kemudian Belanda, memperkenalkan arsitektur mereka sendiri dengan cara awal tetap menggunakan berbagai elemen arsitektur Eropa, namun kemudian dapat beradaptasi dengan tradisi arsitektur lokal. Namun proses ini bukanlah sekadar satu arah: Belanda kemudian mengadopsi unsur-unsur arsitektur pribumi untuk menciptakan bentuk yang unik yang dikenal sebagai arsitektur kolonial Hindia Belanda. Belanda juga sadar dengan mengadopsi arsitektur dan budaya setempat kedalam arsitektur tropis baru mereka dengan menerapkan bentuk-bentuk tradisional ke dalam cara-cara modern termasuk bahan bangunan dan teknik konstruksi.


Gereja Blenduk dan Lawang Sewu bangunan, contoh dari arsitektur Belanda (sumber; www.baligamelan.com)

Bangunan kolonial di Indonesia, terutama periode Belanda yang sangat panjang 1602 - 1945 ini sangat menarik untuk menjelajahi bagaimana silang budaya antara barat dan timur dalam bentuk bangunan, dan juga bagaimana Belanda mengembangkan aklimatisasi bangunan di daerah tropis. Menurut Sumalyo (1993), arsitektur kolonial Belanda di Indonesia adalah fenomena budaya unik yang pernah ditemukan di tempat lain maupun di tanah air mereka sendiri. Bangunan-bangunan tesebut adalah hasil dari budaya campuran kolonial dan budaya di Indonesia.

Perbedaan konsep Barat dan Indonesia ke dalam arsitektur adalah terletak pada korelasi antara bangunan dan manusianya. Arsitektur Barat adalah suatu totalitas konstruksi, sementara itu di Timur lebih bersifat subjektif, yang lebih memilih penampilan luar terutama façade depan. Kondisi alam antara sub-tropis Belanda dan tropis basah Indonesia juga merupakan pertimbangan utama bangunan Belanda di Indonesia.

Sebenarnya, Belanda tidak langsung menemukan bentuk yang tepat untuk bangunan mereka di awal perkembangannya di Indonesia. Selama awal kolonisasi Eropa awal abad 18, jenis bangunan empat musim secara langsung dicangkokkan Belanda ke iklim tropis Indonesia. Fasade datar tanpa beranda, jendela besar, atap dengan ventilasi kecil yang biasa terlihat di bagian tertua kota bertembok Belanda, juga digunakan seperti di Batavia lama (Widodo, J. dan YC. Wong 2002).

Menurut Sumintardja, (1978) VOC telah memilih Pulau Jawa sebagai pusat kegiatan perdagangan mereka dan bangunan pertama dibangun di Batavia sebagai benteng Batavia. Di dalam benteng, dibangun rumah untuk koloni, memiliki bentuk yang sederhana seperti rumah asli di awal tapi belakangan diganti dengan rumah gaya Barat (untuk kepentingan politis). Dinding batu bata rumah, mereka mengimpor bahan langsung dari Belanda dan juga dengan atap genteng dan interior furniture. Rumah-rumah yang menjadi tradisi pertama rumah-rumah tanpa halaman, dengan bentukan memanjang seperti di Belanda sendiri. Rumah-rumah ini ada dua lantai, sempit di façade tapi lebar dalam. Rumah tipe ini selanjutnya banyak digunakan oleh orang-orang cina setelah orang Belanda beralih dengan rumah-rumah besar dengan halaman luas. Rumah-rumah ini disebut sebagai bentuk landhuizen atau rumah tanpa beranda dalam periode awal, setelah mendapat aklimatisasi dengan iklim setempat, rumah-rumah ini dilengkapi dengan beranda depan yang besar seperti di aula pendapa pada bangunan vernakular Jawa.

Pada awalnya, rumah-rumah ini dibangun dengan dua lantai, setelah mengalami gempa dan juga untuk tujuan efisiensi, kemudian rumah-rumah ini dibangun hanya dalam satu lantai saja. Tetapi setelah harga tanah menjadi meningkat, rumah-rumah itu kembali dibangun dengan dua lantai lagi.

Penentuan desain arsitektur menjadi lebih formal dan ditingkatkan setelah pembentukan profesi Arsitek pertama di bawah Dinas Pekerjaan Umum (BOW) pada 1814-1930. Sekitar tahun 1920-an 1930-an, perdebatan tentang masalah identitas Indonesia dan karakter tropis sangat intensif, tidak hanya di kalangan akademis tetapi juga dalam praktek. Beberapa arsitek Belanda, seperti Thomas Karsten, Maclaine Pont, Thomas Nix, CP Wolf Schoemaker, dan banyak lainnya, terlibat dalam wacana sangat produktif baik dalam akademik dan praksis. Bagian yang paling menarik dalam perkembangan Arsitektur modern di Indonesia adalah periode sekitar 1930-an, ketika beberapa arsitek Belanda dan akademisi mengembangkan sebuah wacana baru yang dikenal sebagai "Indisch-Tropisch" yaitu gaya arsitektur dan urbanisme di Indonesia yang dipengaruhi Belanda

Tipologi dari arsitektur kolonial Belanda; hampir bangunan besar luar koridor yang memiliki fungsi ganda sebagai ruang perantara dan penyangga dari sinar matahari langsung dan lebih besar atap dengan kemiringan yang lebih tinggi dan kadang-kadang dibangun oleh dua lapis dengan ruang yang digunakan untuk ventilasi panas udara.

Arsitek-arsitek Belanda mempunyai pendekatan yang baik berkaitan dengan alam di mana bangunan ditempatkan. Kesadaran mereka dapat dilihat dari unsur konstruksi orang yang sangat sadar dengan alam. Dalam Sumalyo (1993,): Karsten pada tahun 1936 dilaporkan dalam artikel: "Semarangse kantoorgebouwen" atau Dua Office Building di Semarang Jawa Tengah:

1. Pada semua lantai pertama dan kedua, ditempatkan pintu, jendela, dan ventilasi yang lebar diantara dia rentang dua kolom. Ruangan untuk tiap lantai sangat tinggi; 5, 25 m di lantai pertama dan 5 m untuk lantai dua. Ruangan yang lebih tinggi, jendela dan ventilasi menjadi sistem yang baik untuk memungkinkan sirkulasi udara di atap, ada lubang ventilasi di dinding atas (di atas jendela)

2. Disamping lebar ruang yang lebih tinggi, koridor terbuka di sisi Barat dan Timur meliputi ruang utama dari sinar matahari langsung.

Ketika awal urbanisasi terjadi di Batavia (Jakarta), ada begitu banyak orang membangun vila mewah di sekitar kota. Gaya arsitekturnya yang klasik tapi beradaptasi dengan alam ditandai dengan banyak ventilasi, jendela dan koridor terbuka banyak dipakai sebagai pelindung dari sinar matahari langsung. Di Bandung, Villa Isolla adalah salah satu contoh arsitektur yang baik ini (oleh Schoemaker1933)


Villa Isolla, salah satu karya arsitektur Belanda di Indonesia (sumber: Prijotomo, 1996)

Arsitektur Kontemporer Indonesia
Setelah kemerdekaan pada tahun 1945, bangunan modern mengambil alih Indonesia. Kondisi ini berlanjut ke tahun 1970-an dan 1980-an ketika pertumbuhan eknomi yang cepat Indonesia yang mengarah pada program-program pembangunan besar-besaran di setiap sector mulai dari skema rumah murah, pabrik-pabrik, bandara, pusat perbelanjaan dan gedung pencakar langit. Banyak proyek bergengsi yang dirancang oleh arsitek asing yang jarang diterapkan diri mereka untuk merancang secara khusus untuk konteks Indonesia. Seperti halnya kota-kota besar di dunia, terutama di Asia, sebagai korban dari globalisasi terlepas dari sejarah lokal, iklim dan orientasi budaya.


Rumah-rumah kontemporer di Indonesia

Arsitektur modern Indonesia umumnya mulai di sekitar tahun 50an dengan dominasi bentuk atap. Model bangunan era kolonial juga diperluas dengan teknik dan peralatan baru seperti konstruksi beton, AC, dan perangkat lift. Namun, sepuluh tahun setelah kemerdekaan, kondisi ekonomi di Indonesia belum cukup kuat. Sebagai akibat, bangunan yang kurang berkualitas terpaksa lahir. Semua itu sebagai upaya untuk menemukan arsitektur Indonesia modern, seperti halnya penggunaan bentuk atap joglo untuk bangunan modern.

Arsitektur perumahan berkembang luas pada tahun 1980-an ketika industri perumahan booming. Rumah pribadi dengan arsitektur yang unik banyak lahir tapi tidak dengan perumahan massal. Istilah rumah rakyat, rumah berkembang, prototipe rumah, rumah murah, rumah sederhana, dan rumah utama dikenal baik bagi masyarakat. Jenis ini dibangun dengan ide ruang minimal, rasional konstruksi dan non konvensional (Sumintardja, 1978)

Permasalahan untuk Arsitektur Indonesia
Gerakan-gerakan baru dalam arsitektur seperti Modernisme, Dekonstruksi, Postmodern, dll tampaknya juga diikuti di Indonesia terutama di Jawa. Namun, dalam kenyataannya, mereka menyerap dalam bentuk luar saja, bukan ide-ide dan proses berpikir itu sendiri. Jangan heran jika kemudian muncul pandangan yang dangkal; "Kotak-kotak adalah  Modern, Kotak berjenjang adalah pasca Modern" (Atmadi, 1997). Arsitektur hanya hanya dilihat sebagai objek bukan sebagai lingkungan hidup.

Sumalyo, (1993) menyatakan bahwa pandangan umum arsitektur Barat: 'Purism', di mana untuk menunjuk Bentuk dan Fungsi, adalah berlawanan dengan konsep-konsep tradisi yang memiliki konteks dengan alam. Kartadiwirya, dalam Budihardjo (1989,) berpendapat, mengapa prinsip tropis 'nusantara' arsitektur jarang dipraktekkan di Indonesia adalah karena pemikiran dari proses perencanaan tidak pernah menjadi pemikiran. Mereka hanya hanya mengajarkan tentang perencanaan konvensional selama 35 tahun tanpa perubahan berarti sampai beberapa hari. Sayangnya hamper semua bahan pengajaran dalam arsitektur berasal dari cara berpikir Barat yang menurut Frick (1997) telah menghasilkan kelemahan arsitektur Indonesia. Dia juga menjelaskan bahwa Bahan menggunakan bangunan modern hanya karena alasan produksi massal yang lebih 'Barat' dan jauh dari tradisi setempat. Kondisi ini telah memicu penggunaan bahan yang tidak biasa dan tanpa kondisi lokal.

Lalu bagaimanakah seharusnya arsitektur Indonesia?

Rabu, 13 Januari 2010

MANA YANG LEBIH BAIK: MEMBELI ATAUKAH MEMBANGUN RUMAH? (Which One is Better for Your House; Buying or Building?)

Membeli atau membuat rumah bukanlah pekerjaan yang gampang. Sembarangan membeli anda dapat menyesal di kemudian hari…sebaliknya, sembarang membangun bisa saja menguras isi kantong.

Nah, sekarang kalau pilihannya adalah mana yang lebih baik? Beli atau Buat rumah?
Tentunya ini berkaitan langsung dengan kondisi seseorang yang bersangkutan dilihat dari sisi waktu yang ada, kualitas yang diinginkan, beaya yang tesedia, dansebagainya. Beberapa kelebihan dan kekurangan masing-masing akan di bahas di bawah ini:

MEMBELI
Kelebihan:
- Dapat dengan cepat rumah dapat dimiliki (secara instan)
- Banyak macam dan ragam pilihan harga sesuai dengan dana yang anda miliki
- Urusan legal-administrasi yang diperlukan lebih mudah karena umumnya diselesaikan oleh penjual
- Jika berbentuk perumahan, biasanya lebih cepat untuk dipindah tangankan
- Lingkungan bisanya sudah terbentuk dengan lengkap (perumahan)
Kekurangan:
- Kualitas mutu bangunan dan material susah untuk dapat dipastikan
- Susah mendapatkan rumah yang benar-benar dengan kebutuhan dan keinginan anda walaupun banyak pilihan


Sebuah kawasan pemukiman siap huni

MEMBUAT
Kelebihan:
- Bangunan dapat benar-benar memenuhi kebutuhan dan selera sehingga lebih menjamin kepuasan personal
- Kualitas bangunan dan material dapat diyakinkan dan sesuai dengan kemampuan budget
- Rumah dapat berupa bangunan dengan konsep tumbuh…bertambah setiap ada dana dan keperluan
- Rumah anda dapat memberikan masukan yang baik lingkungannya (arsitektural, lingkungan, ketetanggan, dsb)
Kekurangan:
- Perlu waktu, pikiran dan tenaga yang lebih difokuskan pada rumah
- Jika salah mengurus, kadang justeru memakan lebih banyak beaya
- Perlu berkoordinasi berkonsultasi dengan banyak fihak mulai dari arsitek, pemborong, pengawas, pemerintah setempat, tetangga, dan sebagainya

Rumah dengan konsep 'penjualan butik'

Namun demikian ada juga beberapa pengembang yang menerapkan sistem 'build after transaction'. Dengan cara ini kedua fihak diuntungkan karena pembeli diberi kesempatan untuk menentukan rumahnya, pengembang dapat menyimpan energynya setelah ada pembeli. Tentu saja dengan cara 'butik' ini beberapa pertimbangan harga menjadi lebih.

Nah, jawaban yang paling benar tentu tergantung anda sendiri. Selamat berumah…! Hehe…

SUDAHKAH RUMAH ANDA BERFUNGSI SEBAGAIMANA MESTINYA? (Is Your House Working Properly?)

Rumah adalah di mana sebagian waktu kita habiskan. Pulang ke rumah (go home) adalah kata yang masih terasa manis dan paling dinantikan untuk sebagian besar orang, kecuali jika ada masalah di sana tentunya. Tetapi hunian yang baik tidak akan menimbulkan banyak masalah kan…..? Sesibuk apa aktifitas anda yang anda lakukan, tanpa pulang ke rumah tentu anda tidak akan merasa nyaman. Rumah adalah ibarat charge buat hand phone, untuk mendapatkan kembali energy dan kesegaran baik jiwa ataupun raga anda. Nah, untuk re-charge yan sempurna, anda butuh rumah yang ‘sempurna’ pula.

Lebih dari itu, rumah adalah awal penentu kehidupan. Ketentraman sebuah rumah akan mempengaruhi langsung kondisi kehidupan seseorang selanjutnya. Lingkungan yang aman, nyaman dan damai akan menciptakan manusia-manusia yang lebih berkualitas. Oleh karena itu, rumah sebagai awal kehidupan sudah pasti harus diperhatikan kualitasnya.

Kualitas rumah yang baik tidak harus selalu dibuat dengan beaya yang tinggi. Yang paling utama adalah, rumah harus sesuai dengan penggunanya dan lingkungannya. Kebutuhan dan keinginan, karakter dan latar belakang pengguna, menjadi dasar pertimbangan utama menyesuaikan rumah dengan penghuninya. Sementara kondisi alam menentukan kualitas keamanan dan kenyamanan hunian dari alam dan manusia lain di sekitarnya.


Contoh Penggunaan Ruang Optimal dengan Bahan sederhana (tropic)
Masing-masing keluarga mempunya ukuran yang berbeda-beda terhadap aktifitas dan sifatnya. Rumah yang didiami keluarga A belum tentu cocok dengan keluarga B walaupun sama dalam jumlah anggota keluarganya, atau pekerjaan yang sama sekalipun. Apalagi berbeda!

Aman harus dilihat dari bagaimana rumah melindungi dari ancaman bahaya alam seperti gempa bumi, banjir, angin rebut dan sebagainya, atau ancaman mahluk hidup lain dari hewan buas, serangga dan sesama manusia tentunya. Oleh karena itu ketepatan desain dalam hal hal penggunaan struktur, konstruksi dan material sangat penting memperhatikan aspek-aspek tersebut. Rumah di daerah gempa, sebagai contoh harus kuat menahan goncangan dan dibuat seringan mungkin. Sementara rumah di daerah banjir justeru harus dibuat berat dan setinggi mungkin agar tidak hanyut. Rumah di perkotaan harus dibuat seaman mungkin dari ancaman sesame manusia sementara di pedesaan harus aman dari binatang dan serangga.

Untuk mencapai tingkat kenyamanan, tingkat gangguan udara, cahaya, dan suara harus diperhatikan. Rumah yang berada di deaerah pegunungan tentu berbeda dengan di daerah pantai dan perkotaan. Aliran udara dan kelembaban, silau cahaya matahari, suara kebisingan ataupun bebauan adalah penentu utama tingkat kenyamanan hunian. Pengaturan dan penyesuaian desain rumah tentu akan berbeda pada tiap kondisi yang berbeda. Oleh karena itu diperlukan desain yang berbeda pula.

Silahkan tunggu artikel-artikel tentang kenyaman selanjutnya...

Minggu, 10 Januari 2010

ME-REKA ULANG CANDI DI UII (Reconstruction for Ancient Temple in UII)

Walaupun proses ekskavasi situs Kimpulan candi kuno di Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta sampai tulisan ini dibuat belum selesai, beberapa dugaan awal telah dapat dikemukakan berkaitan dengan bentuk candi. Menurut hasil penggalian, yang jelas, candi ini mempunyai bentukan yang unik yang berbeda dari candi-candi yang lain di Jawa. Keunikan tersebut adalah dengan bentuk yang lebih sederhana ‘minimalis’ walaupun dengan teknik pengerjaan yang sangat halus. Candi minimalis ini diduga mempunyai faktor kesejarahan tersendiri ketika masa dibangunnya. Keunikan yang lain adalah dengan diduganya penggunaan bahan kayu yang sebelumnya dainggap tidak pernah digunakan untuk candi di Jawa.



Eskavasi Candi di UII (candiuii.blogspot.com)

Menurut penulis, yang bukan arkeolog ini, bentuk candi di UII ini mirip dengan bentuk bale kulkul di Bali. Bentuk platform yang ditinggikan berbentuk bujursangkar (atau persegi?) dengan tangga yang diduga dari kayu adalah cirikhas bale kulkul. Atap tajug dengan kolom kayu juga dapat diterapkan pada candi di UII ini. Walau penulis belum sempat mendatangi langsung situs candi ini, paling tidak dapat dilakukan pendugaan menurut bukti-bukti yang ada, yaitu bentuk fisik candi dan bekas umpak yang terdapat di dalam pagar lankan candi.

Rekonstruksi candi di UII

Mata Rantai Candi Jawa dan Bali

Dengan bentuk demikian, kelihatannya dapat diasumsikan bahwa candi ini mempunyai peran besar dalam mengungkapkan mata rantai yang terputus candi-candi Hindu Jawa dengan candi-candi Hindu Bali. Kita mengetahui bahwa terdapat perbedaan yang besar bentuk maupun material candi Hindu di kedua wilayah tersebut walaupun berasal dari masyarakat yang sama, Hindu Mataram. Kesimpulan penulis sementara adalah bahwa candi di UII ini dibangun pada masa-masa akhir Mataram Hindu sebelum terjadi perpindahan masayarakat hindu dari Jawa ke Bali.

Rekonstruksi candi UII dan Bale Kulkul Rambut Siwi (warungnet.de)
Andai Tim BP3 telah selesai dengan penggaliannya, menemukan prasasti, atau melalui proses carbon dating, mungkin dapat dibuktikan tulisan ini benar atau tidak. Wallahualam…..
Lalu bagaimana dengan mulai digunakannya material kayu? Apakah ada kaitannya dengan gempa atau Gunung Merapi??
Bagaimana menurut anda???