Kamis, 21 Januari 2010

GANESHA CANDI DI UII MEMANG SUDAH DITULISKAN UNTUK UII

Saya dengan tidak sengaja menemukan satu keanehan tersendiri ketika memandangi arca Ganesha yang belum lama ini ditemukan di Universitas Islam Indonesia UII (Islamic University of Indonesia IUI)Yogyakarta. Apa yang saya pikir ini memang sama sekali tidak ilmiah, tapi cukup membuat penasaran pada lambang seperti huruf akibat pahatan rambut di kepala Ganesha. Memang secara keseluruhan huruf yang saya maksud adalah bagian dari ukiran rambut arca ganesha tersebut, tapi secara terpisah huruf tersebut membentuk UUIUUIUUI. Lalu saya mulai menghayal dengan menghubungkannya dengan UII atau IUI. Saya tidak tahu apakah ini kebetulan atau memang sudah dipikirkan oleh para ‘wasis’ nenek moyang bahwa candi ini nantinya tempat UII berada di masa depan (yaitu sekarang)?

Gambar Ganesha dengan hiasan rambut UII atau IUI

Minggu, 17 Januari 2010

ARSITEKTUR INDONESIA? (Indonesian Architecture?)

Asitektur Indonesia terdiri dari klasik-tradisional, vernakular dan bangunan baru kontemporer. Arsitektur klasik-tradisional adalah bangunan yang dibangun oleh zaman kuno. Arsitektur vernakular juga bentuk lain dari arsitektur tradisional, terutama bangunan rumah hunian, dengan beberapa penyesuaian membangun oleh beberapa generasi ke generasi. Arsitektur Baru atau kontemporer lebih banyak menggunakan materi dan teknik konstruksi baru dan menerima pengaruh dari masa kolonial Belanda ke era pasca kemerdekaan. Pengenalan semen dan bahan-bahan modern lainnya dan pembangunan dengan pertumbuhan yang cepat telah menghasilkan hasil yang beragam.

Arsitektur Klasik Indonesia
Ciri khas arsitektur klasik Indonesia dapat dilihat paada bangunan candi dengan struktur menaranya. Candi Buddha dan Hindu dibangun dari batu, yang dibangun di atas tanah dengan cirikhas piramida dan dihiasi dengan relief. Secara simbolis, bangunan adalah sebagai representasi dari Gunung Meru yang legendaris, yang dalam mitologi Hindu-Buddha diidentifikasi sebagai kediaman para dewa. Candi Buddha Borobudur yang terkenal dari abad ke-9 dan Candi Prambanan bagi umat Hindu di Jawa Tengah juga dipenuhi dengan gagasan makro kosmos yang direpresentasiken dengan sebuah gunung. Di Asia Timur, walau dipengaruhi oleh budaya India, namun arsitektur Indonesia (nusantara) lebih mengedapankan elemen-elemen masyarakat lokal, dan lebih tepatnya dengan budaya petani.

Budaya Hindu paling tidak 10 abad telah mempengaruhi kebudayaan Indonesia sebelum pengaruh Islam datang. Peninggalan arsitektur klasik (Hindu-Buddha) di Indonesia sangat terbatas untuk beberapa puluhan candi kecuali Pulau Bali yang masih banyak karena faktor agama penduduk setempat.

Arsitektur vernakular di Indonesia
Arsitektur tradisional dan vernakular di Indonesia berasal dari dua sumber. Pertama adalah dari tradisi Hindu besar dibawa ke Indonesia dari India melalui Jawa. Yang kedua adalah arsitektur pribumi asli. Rumah-rumah vernakular yang kebanyakan ditemukan di daerah pedesaan dibangun dengan menggunakan bahan-bahan alami seperti atap ilalang, bambu, anyaman bambu, kayu kelapa, dan batu. Bangunan adalah penyesuain sepenuhnya selaras dengan lingkungan sekitar. Rumah-rumah di pedalaman di Indonesia masih banyak yang menggunakan bambu, namun dengan seiring dengan proses modernisasi, bangunan-bangunan bambu ini sedikit demi sedikit diganti dengan bangunan dinding bata.


Arsitektur tradisional di Indonesia

Bangunan vernakular yang tertua di Indonesia saat ini tidak lebih dari sekitar 150 tahun usianya. Namun dari relief di dinding abad ke-9 di candi Borobudur di Jawa Tengah mengungkapkan bahwa ada hubungan erat dengan arsitektur rumah vernakular kontemporer yang ada saat ini. Arsitektur vernakular Indonesia juga mirip dengan yang dapat ditemukan di seluruh pulau-pulau di Asia Tenggara. Karakteristik utamanya adalah dengan digunakannya lantai yang ditinggikan (kecuali di Jawa), atap dengan kemiringan tinggi menyerupai pelana dan penggunaan material dari kayu dan bahan organik tahan lama lainnya.

Pengaruh Islam dalam Arsitektur
Budaya Islam di Indonesia dimulai pada tahun 13 Masehi ketika di Sumatra bagian utara muncul kerajaan Islam Pasai di 1292. Dua setengah abad kemudian bersama-sama juga dengan orang-orang Eropa, Islam datang ke Jawa. Islam tidak menyebar ke kawasan Indonesia oleh kekuatan politik seperti di India atau Turki namun lebih melalui penyebaran budaya. Budaya Islam pada arsitektur Indonesia dapat dijumpai di masjid-masjid, istana, dan bangunan makam.

Menurunnya kekuatan kerajaan Hindu Majapahit di Jawa menandai bergantinya periode sejarah di Jawa. Kebudayaan Majapahit tersebut meninggalkan kebesarannya dengan dengan serangkaian candi-candi monumental sampai abad keempat belas. Meskipun demikian, tidak berarti bahwa "Zaman Klasik" di Jawa ini kemudian diganti dengan zaman "biadab" dan juga bukanlah awal dari "Abad Kegelapan". Selanjutnya kerajaan-kerajaan Islam melanjutkan budaya lama Majapahit yang mereka adopsi secara jenius. "New Era" selanjutnya menghasilkan ikon penting seperti masjid-masjid di Demak, Kudus dan Banten pada abad keenam belas. Juga dengan situs makam Imogiri dan istana-istana Yogyakarta dan Surakarta pada abad kedelapan belas. Fakta sejarah menunjukkan bahwa Islam tidak memperkenalkan bentuk-bentuk fisik baru dan ajaran-ajarannyapun diajarkan lebih dalam cara-cara mistis oleh para sufi, atau dengan kata lain melalui sinkretisme, sayangnya hal inilah yang mempengaruhi ‘gagal’nya Islam sebagai sebuah sistem baru yang benar-benar tidak menghapuskan warisan Hindu ( lihat Prijotomo, 1988).


Masjid Kudus dengan Gaya Hindu untuk Drum Tower dan Gerbang

Penyebaran Islam secara bertahap di kawasan Indonesia dari abad ke-12 dan seterusnya dengan memperkenalkan serangkaian penting pengaruh arsitektur. Namun, perubahan dari gaya lama ke baru yang lebih bersifat ideologis baru kemudian teknologi. Kedatangan Islam tidak mengarah pada pengenalan bangunan yang sama sekali baru, melainkan melihat dan menyesuaikan bentuk-bentuk arsitektur yang ada, yang diciptakan kembali atau ditafsirkan kembali sesuai persyaratan dalam Islam. Menara Kudus, di Jawa Tengah, adalah contoh dalam kasus ini. Bangunan ini sangat mirip dengan candi dari abad ke-14 di era kerajaan Majapahit, menara ini diadaptasi untuk kepentingan yang lebih baru dibangun masjid setelah runtuhnya kerajaan Majapahit. Demikian pula, masjid-masjid di awal perkembangan Islam di Indonesia murni terinspirasi dari tradisi bangunan local yang ada di Jawa, dan tempat lain di Nusantara, dengan empat kolom utama yang mendukung atap tengahnya. Dalam kedua budaya ini empat kolom utama atau Saka Guru mempunyai makna simbolis.

Gaya Belanda dan Hindia Belanda
Pengaruh Barat di mulai jauh sebelum tahun 1509 ketika Marco Polo dari Venesia melintasi Nusantara di 1292 untuk kegiatan perdagangan. Sejak itu orang-orang Eropa berusaha untuk merebut kendali atas perdagangan rempah-rempah yang sangat menguntungkan. Portugis dan Spanyol, dan kemudian Belanda, memperkenalkan arsitektur mereka sendiri dengan cara awal tetap menggunakan berbagai elemen arsitektur Eropa, namun kemudian dapat beradaptasi dengan tradisi arsitektur lokal. Namun proses ini bukanlah sekadar satu arah: Belanda kemudian mengadopsi unsur-unsur arsitektur pribumi untuk menciptakan bentuk yang unik yang dikenal sebagai arsitektur kolonial Hindia Belanda. Belanda juga sadar dengan mengadopsi arsitektur dan budaya setempat kedalam arsitektur tropis baru mereka dengan menerapkan bentuk-bentuk tradisional ke dalam cara-cara modern termasuk bahan bangunan dan teknik konstruksi.


Gereja Blenduk dan Lawang Sewu bangunan, contoh dari arsitektur Belanda (sumber; www.baligamelan.com)

Bangunan kolonial di Indonesia, terutama periode Belanda yang sangat panjang 1602 - 1945 ini sangat menarik untuk menjelajahi bagaimana silang budaya antara barat dan timur dalam bentuk bangunan, dan juga bagaimana Belanda mengembangkan aklimatisasi bangunan di daerah tropis. Menurut Sumalyo (1993), arsitektur kolonial Belanda di Indonesia adalah fenomena budaya unik yang pernah ditemukan di tempat lain maupun di tanah air mereka sendiri. Bangunan-bangunan tesebut adalah hasil dari budaya campuran kolonial dan budaya di Indonesia.

Perbedaan konsep Barat dan Indonesia ke dalam arsitektur adalah terletak pada korelasi antara bangunan dan manusianya. Arsitektur Barat adalah suatu totalitas konstruksi, sementara itu di Timur lebih bersifat subjektif, yang lebih memilih penampilan luar terutama façade depan. Kondisi alam antara sub-tropis Belanda dan tropis basah Indonesia juga merupakan pertimbangan utama bangunan Belanda di Indonesia.

Sebenarnya, Belanda tidak langsung menemukan bentuk yang tepat untuk bangunan mereka di awal perkembangannya di Indonesia. Selama awal kolonisasi Eropa awal abad 18, jenis bangunan empat musim secara langsung dicangkokkan Belanda ke iklim tropis Indonesia. Fasade datar tanpa beranda, jendela besar, atap dengan ventilasi kecil yang biasa terlihat di bagian tertua kota bertembok Belanda, juga digunakan seperti di Batavia lama (Widodo, J. dan YC. Wong 2002).

Menurut Sumintardja, (1978) VOC telah memilih Pulau Jawa sebagai pusat kegiatan perdagangan mereka dan bangunan pertama dibangun di Batavia sebagai benteng Batavia. Di dalam benteng, dibangun rumah untuk koloni, memiliki bentuk yang sederhana seperti rumah asli di awal tapi belakangan diganti dengan rumah gaya Barat (untuk kepentingan politis). Dinding batu bata rumah, mereka mengimpor bahan langsung dari Belanda dan juga dengan atap genteng dan interior furniture. Rumah-rumah yang menjadi tradisi pertama rumah-rumah tanpa halaman, dengan bentukan memanjang seperti di Belanda sendiri. Rumah-rumah ini ada dua lantai, sempit di façade tapi lebar dalam. Rumah tipe ini selanjutnya banyak digunakan oleh orang-orang cina setelah orang Belanda beralih dengan rumah-rumah besar dengan halaman luas. Rumah-rumah ini disebut sebagai bentuk landhuizen atau rumah tanpa beranda dalam periode awal, setelah mendapat aklimatisasi dengan iklim setempat, rumah-rumah ini dilengkapi dengan beranda depan yang besar seperti di aula pendapa pada bangunan vernakular Jawa.

Pada awalnya, rumah-rumah ini dibangun dengan dua lantai, setelah mengalami gempa dan juga untuk tujuan efisiensi, kemudian rumah-rumah ini dibangun hanya dalam satu lantai saja. Tetapi setelah harga tanah menjadi meningkat, rumah-rumah itu kembali dibangun dengan dua lantai lagi.

Penentuan desain arsitektur menjadi lebih formal dan ditingkatkan setelah pembentukan profesi Arsitek pertama di bawah Dinas Pekerjaan Umum (BOW) pada 1814-1930. Sekitar tahun 1920-an 1930-an, perdebatan tentang masalah identitas Indonesia dan karakter tropis sangat intensif, tidak hanya di kalangan akademis tetapi juga dalam praktek. Beberapa arsitek Belanda, seperti Thomas Karsten, Maclaine Pont, Thomas Nix, CP Wolf Schoemaker, dan banyak lainnya, terlibat dalam wacana sangat produktif baik dalam akademik dan praksis. Bagian yang paling menarik dalam perkembangan Arsitektur modern di Indonesia adalah periode sekitar 1930-an, ketika beberapa arsitek Belanda dan akademisi mengembangkan sebuah wacana baru yang dikenal sebagai "Indisch-Tropisch" yaitu gaya arsitektur dan urbanisme di Indonesia yang dipengaruhi Belanda

Tipologi dari arsitektur kolonial Belanda; hampir bangunan besar luar koridor yang memiliki fungsi ganda sebagai ruang perantara dan penyangga dari sinar matahari langsung dan lebih besar atap dengan kemiringan yang lebih tinggi dan kadang-kadang dibangun oleh dua lapis dengan ruang yang digunakan untuk ventilasi panas udara.

Arsitek-arsitek Belanda mempunyai pendekatan yang baik berkaitan dengan alam di mana bangunan ditempatkan. Kesadaran mereka dapat dilihat dari unsur konstruksi orang yang sangat sadar dengan alam. Dalam Sumalyo (1993,): Karsten pada tahun 1936 dilaporkan dalam artikel: "Semarangse kantoorgebouwen" atau Dua Office Building di Semarang Jawa Tengah:

1. Pada semua lantai pertama dan kedua, ditempatkan pintu, jendela, dan ventilasi yang lebar diantara dia rentang dua kolom. Ruangan untuk tiap lantai sangat tinggi; 5, 25 m di lantai pertama dan 5 m untuk lantai dua. Ruangan yang lebih tinggi, jendela dan ventilasi menjadi sistem yang baik untuk memungkinkan sirkulasi udara di atap, ada lubang ventilasi di dinding atas (di atas jendela)

2. Disamping lebar ruang yang lebih tinggi, koridor terbuka di sisi Barat dan Timur meliputi ruang utama dari sinar matahari langsung.

Ketika awal urbanisasi terjadi di Batavia (Jakarta), ada begitu banyak orang membangun vila mewah di sekitar kota. Gaya arsitekturnya yang klasik tapi beradaptasi dengan alam ditandai dengan banyak ventilasi, jendela dan koridor terbuka banyak dipakai sebagai pelindung dari sinar matahari langsung. Di Bandung, Villa Isolla adalah salah satu contoh arsitektur yang baik ini (oleh Schoemaker1933)


Villa Isolla, salah satu karya arsitektur Belanda di Indonesia (sumber: Prijotomo, 1996)

Arsitektur Kontemporer Indonesia
Setelah kemerdekaan pada tahun 1945, bangunan modern mengambil alih Indonesia. Kondisi ini berlanjut ke tahun 1970-an dan 1980-an ketika pertumbuhan eknomi yang cepat Indonesia yang mengarah pada program-program pembangunan besar-besaran di setiap sector mulai dari skema rumah murah, pabrik-pabrik, bandara, pusat perbelanjaan dan gedung pencakar langit. Banyak proyek bergengsi yang dirancang oleh arsitek asing yang jarang diterapkan diri mereka untuk merancang secara khusus untuk konteks Indonesia. Seperti halnya kota-kota besar di dunia, terutama di Asia, sebagai korban dari globalisasi terlepas dari sejarah lokal, iklim dan orientasi budaya.


Rumah-rumah kontemporer di Indonesia

Arsitektur modern Indonesia umumnya mulai di sekitar tahun 50an dengan dominasi bentuk atap. Model bangunan era kolonial juga diperluas dengan teknik dan peralatan baru seperti konstruksi beton, AC, dan perangkat lift. Namun, sepuluh tahun setelah kemerdekaan, kondisi ekonomi di Indonesia belum cukup kuat. Sebagai akibat, bangunan yang kurang berkualitas terpaksa lahir. Semua itu sebagai upaya untuk menemukan arsitektur Indonesia modern, seperti halnya penggunaan bentuk atap joglo untuk bangunan modern.

Arsitektur perumahan berkembang luas pada tahun 1980-an ketika industri perumahan booming. Rumah pribadi dengan arsitektur yang unik banyak lahir tapi tidak dengan perumahan massal. Istilah rumah rakyat, rumah berkembang, prototipe rumah, rumah murah, rumah sederhana, dan rumah utama dikenal baik bagi masyarakat. Jenis ini dibangun dengan ide ruang minimal, rasional konstruksi dan non konvensional (Sumintardja, 1978)

Permasalahan untuk Arsitektur Indonesia
Gerakan-gerakan baru dalam arsitektur seperti Modernisme, Dekonstruksi, Postmodern, dll tampaknya juga diikuti di Indonesia terutama di Jawa. Namun, dalam kenyataannya, mereka menyerap dalam bentuk luar saja, bukan ide-ide dan proses berpikir itu sendiri. Jangan heran jika kemudian muncul pandangan yang dangkal; "Kotak-kotak adalah  Modern, Kotak berjenjang adalah pasca Modern" (Atmadi, 1997). Arsitektur hanya hanya dilihat sebagai objek bukan sebagai lingkungan hidup.

Sumalyo, (1993) menyatakan bahwa pandangan umum arsitektur Barat: 'Purism', di mana untuk menunjuk Bentuk dan Fungsi, adalah berlawanan dengan konsep-konsep tradisi yang memiliki konteks dengan alam. Kartadiwirya, dalam Budihardjo (1989,) berpendapat, mengapa prinsip tropis 'nusantara' arsitektur jarang dipraktekkan di Indonesia adalah karena pemikiran dari proses perencanaan tidak pernah menjadi pemikiran. Mereka hanya hanya mengajarkan tentang perencanaan konvensional selama 35 tahun tanpa perubahan berarti sampai beberapa hari. Sayangnya hamper semua bahan pengajaran dalam arsitektur berasal dari cara berpikir Barat yang menurut Frick (1997) telah menghasilkan kelemahan arsitektur Indonesia. Dia juga menjelaskan bahwa Bahan menggunakan bangunan modern hanya karena alasan produksi massal yang lebih 'Barat' dan jauh dari tradisi setempat. Kondisi ini telah memicu penggunaan bahan yang tidak biasa dan tanpa kondisi lokal.

Lalu bagaimanakah seharusnya arsitektur Indonesia?

Kamis, 14 Januari 2010

ADAKAH TEMPAT YANG AMAN DARI GEMPA DI INDONESIA? (Safe Places from Earthquakes in Indonesia?)

Kondisi Tectonic Nusantara

Untuk dapat menjawab pertanyaan ini, kita harus melihat kondisi geology wilayah Indonesia dan sekitarnya. Secara geografis, wilayah Indonesia terletak di wilayah kepulauan yang kita sebut Nusantara atau archipelago. Suatu wilayah rangkaian pulau-pulau yang tersebar dari semenanjung Malaya ke Timur sampai ke Papua yang meliputi Malaysia, Singapura, Indonesia, Brunei dan Timor Leste. Pulau Papua (Irian Jaya dan Papua New Guinea) secara geologis sebenarnya adalah pulau yang bukan dari rangkaian archipelago melainkan bagian dari benua Australia.

Wilayah Indonesia (source: www.indonesian-intros.com)

Menurut teori geology, rangkaian nusantara ini terbentuk akibat kenaikan lapisan bumi oleh tumbukan pelat-pelat benua di sekitarnya, sehingga terbentuklah ribuan pulau yang unik yang tidak terdapat di bagian dunia lain di bumi ini. Paling sedikit ada empat pelat tektonik yang mempengaruhi terbentuknya pulau-pulau di nusantara yaitu Pelat Australia di Selatan, Pelat Eurasia di Baratlaut, Pelat Pacific di Timurlaut dan Pelat Philippine di Utara. Pelat tektonik Australia bergerak kearah Timur laut dengan kecepatan ±7cm per tahun, pelat Eurasia bergerak dengan kecepatan ±5cm ke arah Tenggara, Pelat Pacific bergerak kearah Baratlaut dengan kecepatan ±10cm per tahun, sementara pelat Philippine diperkirakan relative statis karena terjepit di antara dua pelat: Eurasia dan Pacific dari arah berlawanan.

Dengan kondisi tektonik seperti ini, wilayah nusantara adalah termasuk wilayah yang paling dinamis di dunia, dengan artian kondisi geology atau lapisan buminya selalu bergejolak yang ditandai dengan banyaknya bentukan permukaan akibat aktifitas tektonik berupa palung dan gunung berapi baik di darat ataupun di lautan. Palung adalah jurang memanjang di permukaan bumi sebagai akibat berpisahnya dua lapisan kerak bumi secara kontinyu sementara gunung berapi adalah titik dimana cairan bumi mempunyai jalan keluar akibat tekanan atau tabrakan pelat bumi di bawah (sekitarnya).

Di satu sisi lapisan bumi seperti ini akan menghasilkan lapisan tanah yang paling subur akibat aktifitas gunung berapi dan tanah yang gembur akibat lapisan tanah yang dinamis dan air tanah yang melimpah, di sisi lain bencana letusan gunung berapi dan gempa bumi selalu mengancam. Itulah konsekwensi positif dan negatif dari bumi nusantara ini, yang suka atau tidak memang harus diterima. Tuhan menghadiahkan tanah yang sangat subur, namun juga sekaligus memberikan resiko di dalamnya. Namun demikian manusia diberkahi dengan akal oleh Nya yang tentu diharapkan akan dapat digunakan untuk menyelesaikan segala permasalahan mereka.



Bagan kondisi wilayah sepanjang Sumatera, Jawa, dan NTT akibat pertemuan pelat Australia dan Eurasia (source?)

Kembali ke pertanyaan di atas; lalu apakah ada wilayah di Indonesia yang aman dari bencana gempa?

Ring of Fire

Jika kita berkunjung ke Google Earth, kita akan dapat melihat dengan sangat jelas garis-garis palung ataupun pegunungan baik di darat ataupun di laut. Garis-garis ini terbentuk sebagai akibat perpisahan atau pertemuan dua pelat benua. Untuk wilayah Indonesia, garis ini dapat dijumpai mulai dari Utara pulau Sumatera, bergerak ke Selatan menyusuri selatan pulau Sumatera, selatan pulau Jawa, selatan Nusa Tenggara, Celah Timor, hingga ke pedalaman laut Banda. Ini adalah akibat pertemuan pelat Australia dan Eurasia. Sementara di Utara kita bisa melihat jalur dari Timur Philipina ke bawah sampai ke Laut Banda dan kemudian berbelok ke Timur di atas pulau papua. Ini adalah jalur utama pertemuan Pelat Pacific, Phillipine dan Australia. Sehingga kawasan laut Banda dapat dikatakan tempat yang paling dinamis di dunia karena terdapat pertemuan sekaligus tiga pelat di dalamnya.

Garis-garis lain yang lebih kecil dapat kita jumpai di sekitar Laut China Selatan, Laut Sulawesi, dan sekitar Laut Irian. Wilayah-wilayah ini juga ditengarai sebagai wilayah yang dinamis karena banyak terdapat palung dan gunung berapi namun relatif lebih kecil jika dibanding garis utama di atas. Garis itu kita sebut Ring of Fire.

Wilayah garis bahaya Ring of Fire (merah dan kuning) dan wilayah yang relatif aman (putih). Source: from various sources, with Googleearth map

Wilayah yang aman

Untuk dapat menentukan wilayah yang relatif aman, tentu harus berada sejauh mungkin dari garis-garis tadi. Jika kita tarik garis sejauh 500km (perkiraan jarak yang aman dari pengaruh gempa bumi) dari garis-garis bahaya atau ring of fire tersebut dapat kita temukan wilayah-wilayah seperti dalam peta. Wilayah semenanjung Malaysia, sepenuhnya aman, Sumatera bagian utara yeng terdiri dari bagian Propinsi Riau, Kepulauan Riau, Bangka Belitung juga aman. Singapura dan Batam juga aman. Sebagian besar Pulau Kalimantan Tengah ke Barat termasuk Brunei juga aman. Hanya sebagian kecil Pulau Jawa di sekitar Gunung Murialah yang aman. Pulau-pulau kecil di antara tempat-tempat tadi juga aman di Laut Jawa.
Sebaliknya, wilayah Indonesia yang kita kenal selama ini sebagai tempat populasi penduduk terbesar melintas dari Pulau Sumatera bagian Utara, Barat, dan Selatan, sebagian besar Pulau Jawa termasuk Jakarta, Bali, NTT, hingga Ambon dan Sulawesi semua rawan terhadap gempa bumi. Oleh karena itu tidak salah kalau ada gagasan untuk memindahkan Ibu Kota ke Kalimantan Barat, atau Selatan. Karena disamping relatif berada di tengah (aman dari serangan militer dari luar dan kemudahan geografis), wilayah itu kemungkinan sangat kecil mendapat goyangan gempa besar.

Lalu apakah seluruh penduduk di wilayah-wilayah berbahaya itu perlu dipindahkan? Tentu saja tidak. Gempa adalah fenomena alam yang wajar. Mesin pembunuh yang sebenarnya bukanlah gempa itu sendiri namun bangunan yang digunakan manusia. Kesadaran dan kewaspadaan akan bahaya gempa dengan menerapkan sistem keselamatan dan bangunan yang aman adalah kunci untuk menghindarkan bahaya dan kerugian yang lebih besar baik benda ataupun nyawa.

Rabu, 13 Januari 2010

Haiti Earthquake...no more Killer Quake Please...

3 days after I wrote an Expectation for 2010 shocking news is coming now. Haiti has been stroke by big earthquake 7.3 Richter scale by 10 km depth epicenter. This earthquake seems very powerful and affected hardly to the region since the location of the centre also near to the capital Port-au-Prince. The quake hit at 5 p.m. (2200 GMT), and witnesses reported panic-stricken people running into the streets as offices, hotels, houses and shops collapsed.

The 7.3 magnitude quake - thought to be the most powerful to hit Haiti in more than 200 years. Unsurprisingly, the awareness of the people is assumed very least. From the news, most collapsed buildings are constructed from bricks wall with reinforced framing system. This even worst since this type of buildings are easily collapsed and hit the people inside. Some important buildings are also fallen down including (www.france24.com):

The presidential palace: Following the quake, it was seen in ruins, its domes collapsed on to flattened walls. President Rene Preval and his wife were said to be safe, according to Haiti’s ambassador to Mexico, but no further details were given on their whereabouts.

Hotel Montana: The luxury hotel that attracts tourists and business travellers collapsed; about 100 of its 300 guests have been evacuated.

The headquarters of the UN mission: The United Nations reported that many staff members in Haiti were unaccounted for after the five-storey building collapsed

Meanwhile....another earthquake of 6.2 Richter scale also stroke Manokwari Papua Indonesia, (0.83 S - 133.36 E) by 26 Km depth less than an hour ago. Fortunately, according to the report, no casualty has been found.

Back to the expectation for 2010, hopefuly this catastrophe will be the last earthquake disasster in 2010 (and forward of course....)

MANA YANG LEBIH BAIK: MEMBELI ATAUKAH MEMBANGUN RUMAH? (Which One is Better for Your House; Buying or Building?)

Membeli atau membuat rumah bukanlah pekerjaan yang gampang. Sembarangan membeli anda dapat menyesal di kemudian hari…sebaliknya, sembarang membangun bisa saja menguras isi kantong.

Nah, sekarang kalau pilihannya adalah mana yang lebih baik? Beli atau Buat rumah?
Tentunya ini berkaitan langsung dengan kondisi seseorang yang bersangkutan dilihat dari sisi waktu yang ada, kualitas yang diinginkan, beaya yang tesedia, dansebagainya. Beberapa kelebihan dan kekurangan masing-masing akan di bahas di bawah ini:

MEMBELI
Kelebihan:
- Dapat dengan cepat rumah dapat dimiliki (secara instan)
- Banyak macam dan ragam pilihan harga sesuai dengan dana yang anda miliki
- Urusan legal-administrasi yang diperlukan lebih mudah karena umumnya diselesaikan oleh penjual
- Jika berbentuk perumahan, biasanya lebih cepat untuk dipindah tangankan
- Lingkungan bisanya sudah terbentuk dengan lengkap (perumahan)
Kekurangan:
- Kualitas mutu bangunan dan material susah untuk dapat dipastikan
- Susah mendapatkan rumah yang benar-benar dengan kebutuhan dan keinginan anda walaupun banyak pilihan


Sebuah kawasan pemukiman siap huni

MEMBUAT
Kelebihan:
- Bangunan dapat benar-benar memenuhi kebutuhan dan selera sehingga lebih menjamin kepuasan personal
- Kualitas bangunan dan material dapat diyakinkan dan sesuai dengan kemampuan budget
- Rumah dapat berupa bangunan dengan konsep tumbuh…bertambah setiap ada dana dan keperluan
- Rumah anda dapat memberikan masukan yang baik lingkungannya (arsitektural, lingkungan, ketetanggan, dsb)
Kekurangan:
- Perlu waktu, pikiran dan tenaga yang lebih difokuskan pada rumah
- Jika salah mengurus, kadang justeru memakan lebih banyak beaya
- Perlu berkoordinasi berkonsultasi dengan banyak fihak mulai dari arsitek, pemborong, pengawas, pemerintah setempat, tetangga, dan sebagainya

Rumah dengan konsep 'penjualan butik'

Namun demikian ada juga beberapa pengembang yang menerapkan sistem 'build after transaction'. Dengan cara ini kedua fihak diuntungkan karena pembeli diberi kesempatan untuk menentukan rumahnya, pengembang dapat menyimpan energynya setelah ada pembeli. Tentu saja dengan cara 'butik' ini beberapa pertimbangan harga menjadi lebih.

Nah, jawaban yang paling benar tentu tergantung anda sendiri. Selamat berumah…! Hehe…

SUDAHKAH RUMAH ANDA BERFUNGSI SEBAGAIMANA MESTINYA? (Is Your House Working Properly?)

Rumah adalah di mana sebagian waktu kita habiskan. Pulang ke rumah (go home) adalah kata yang masih terasa manis dan paling dinantikan untuk sebagian besar orang, kecuali jika ada masalah di sana tentunya. Tetapi hunian yang baik tidak akan menimbulkan banyak masalah kan…..? Sesibuk apa aktifitas anda yang anda lakukan, tanpa pulang ke rumah tentu anda tidak akan merasa nyaman. Rumah adalah ibarat charge buat hand phone, untuk mendapatkan kembali energy dan kesegaran baik jiwa ataupun raga anda. Nah, untuk re-charge yan sempurna, anda butuh rumah yang ‘sempurna’ pula.

Lebih dari itu, rumah adalah awal penentu kehidupan. Ketentraman sebuah rumah akan mempengaruhi langsung kondisi kehidupan seseorang selanjutnya. Lingkungan yang aman, nyaman dan damai akan menciptakan manusia-manusia yang lebih berkualitas. Oleh karena itu, rumah sebagai awal kehidupan sudah pasti harus diperhatikan kualitasnya.

Kualitas rumah yang baik tidak harus selalu dibuat dengan beaya yang tinggi. Yang paling utama adalah, rumah harus sesuai dengan penggunanya dan lingkungannya. Kebutuhan dan keinginan, karakter dan latar belakang pengguna, menjadi dasar pertimbangan utama menyesuaikan rumah dengan penghuninya. Sementara kondisi alam menentukan kualitas keamanan dan kenyamanan hunian dari alam dan manusia lain di sekitarnya.


Contoh Penggunaan Ruang Optimal dengan Bahan sederhana (tropic)
Masing-masing keluarga mempunya ukuran yang berbeda-beda terhadap aktifitas dan sifatnya. Rumah yang didiami keluarga A belum tentu cocok dengan keluarga B walaupun sama dalam jumlah anggota keluarganya, atau pekerjaan yang sama sekalipun. Apalagi berbeda!

Aman harus dilihat dari bagaimana rumah melindungi dari ancaman bahaya alam seperti gempa bumi, banjir, angin rebut dan sebagainya, atau ancaman mahluk hidup lain dari hewan buas, serangga dan sesama manusia tentunya. Oleh karena itu ketepatan desain dalam hal hal penggunaan struktur, konstruksi dan material sangat penting memperhatikan aspek-aspek tersebut. Rumah di daerah gempa, sebagai contoh harus kuat menahan goncangan dan dibuat seringan mungkin. Sementara rumah di daerah banjir justeru harus dibuat berat dan setinggi mungkin agar tidak hanyut. Rumah di perkotaan harus dibuat seaman mungkin dari ancaman sesame manusia sementara di pedesaan harus aman dari binatang dan serangga.

Untuk mencapai tingkat kenyamanan, tingkat gangguan udara, cahaya, dan suara harus diperhatikan. Rumah yang berada di deaerah pegunungan tentu berbeda dengan di daerah pantai dan perkotaan. Aliran udara dan kelembaban, silau cahaya matahari, suara kebisingan ataupun bebauan adalah penentu utama tingkat kenyamanan hunian. Pengaturan dan penyesuaian desain rumah tentu akan berbeda pada tiap kondisi yang berbeda. Oleh karena itu diperlukan desain yang berbeda pula.

Silahkan tunggu artikel-artikel tentang kenyaman selanjutnya...

Senin, 11 Januari 2010

The Beautiful Cyprus

I don’t know why I have to be in Cyprus again. After spending 2 years in the island for 2005-2006 period, last 2008 I come back to the island to continuing my education there. Only one word may be is the only reason; ‘beautiful’. It is not only the nature but also the people.

Of course the Cypriot girl is beautiful! But I’m not talking about the girls only. I am a non single man who has no any objection about that matter. What I mean is that the people are really friendly. I like all my professors and friends there. They are my real second family while I am abroad. Many times we were spend time not only for study and work, but also for fun, enjoying the life! It is very helpful for me as the foreigner without feeling being to be a stranger.

The nature of Cyprus is definitely Mediterranean with short winter and long summer. Spring time is my favorite times. The island is really turned in so colorful heaven when February comes. Many flowers and fruits can be easily being found, especially in the villages and markets of course. Oranges and grapes are the best in Cyprus. The location of the island is also very strategic point connecting Asia, Europe, and Africa. No wonder since ancient time, this very tiny island (if we compare to Java or Sumatera in Indonesia) had been objected for many struggles of many nations, count for Venetian, Lusignan, Roman, Ottoman, Arabic, British, Greek, and Turkish.

Cyprus in the spring

Fullmoon in Cyprus Apartment

Morning in the great mosque

Me and my ex girl friend

Me with My Prof. Erdal and Prof. Nurten Family

Me with My Prof. Ibrahim and friends

Me and My Prof. Ibrahim in his home