Senin, 11 Januari 2010

AMANKAH HUNIAN PASCA GEMPA BUMI DENGAN BETON BERTULANG? (Is Reinforced Concrete Structure Safe for Post Earthquake Housing?)

Untuk kasus di Yogyakarta, sampai saat ini belum ada yang berani berpendapat bahwa seratus persen bangunan akan aman dari kemungkinan ancaman gempa yang sama dengan gempa 27 Mei 2006 lalu. Namun paling tidak, sebagian besar fihak-fihak berkompeten telah yakin bahwa bangunan rekonstruksi ataupun bangunan baru pasca gempa 2006 lebih baik kualitasnya. Hal ini tentu tidak dapat diingkari karena pada kenyataannya bangunan-bangunan tersebut telah dibuat dengan menggunakan konstruksi yang lebih up to date.

Permasalahannya adalah dengan tingginya keyakinan berbagai fihak termasuk penghuni,seharusnya tidak mengurangi tingkat kewaspadaan terhadap kemungkinan bahaya yang sama di masa depan. Mengingat lokasi Pulau Jawa khususnya dan Indonesia pada umumnya sangat mungkin untuk mendapat serangan gempa sewaktu-waktu yang menurut beberapa sumber hingga 3000-5000 kali terjadi gempa setiap tahunnya di Indonesia baik terasa ataupun tidak.

Tulangan rangka beton pada sloof dan kolom

Dapat dikatakan, dari sisi masyarakat pengguna rumah, penggunaan material beton bertulang telah ditangkap sebagai sebuah jaminan akan keamanan mereka dari bahaya gempa. Hal ini dapat difahami mengingat sebelumnya sebagian besar rumah yang runtuh hanya menggunakan pasangan bata (masonry) tanpa rangka beton bertulang. Opsi yang lain dengan rumah baja ataupun kayu dianggap terlalu mahal, atau juga terlalu rendah (konstruksi bambu). Apalagi jika mereka juga menyaksikan betapa bagus campuran beton dan besar diameter tulangan yang mereka gunakan. Jaminan keselamatan sepertinya dianggap taken for granted, dengan sendirinya akan mereka dapatkan.

Rumah dengan rangka beton bertulang

Sayangnya, factor keamanan sebuah bangunan dari gempa tidak cukup dilihat dari sisi penggunaan material ‘yang kuat’ saja. Mulai dari lokasi, disain bangunan, disain system struktur, ketepatan konstruksi, proses konstruksi, ketepatan penggunaan jenis material, hingga penggunaan bangunan semuanya akan sangat mempengaruhi tingkat keamanan bangunan dan penggunanya.

Kuda-kuda beton bertulang yang populer

Faktor Lokasi
Faktor lokasi secara umum tidak akan dapat diselesaikan kecuali dengan berpindah tempat dari zona bahaya ke daerah yang relative lebih aman. Transmigrasi massal atau bedol kampung adalah solusi yang tidak mudah untuk diterapkan, walau ini juga telah dilakukan Pemerintah Daerah Bantul misalnya dengan mengirimkan kurang lebih 400 KK tahun 2009 lalu. Akan tetapi mengingat masih terlalu padatnya populasi penduduk dearah sekitar, solusi lain tentu sangat diperlukan. Salah satu pemikiran yang juga patut dihargai adalah dengan usulan memperkecil dampak goncangan dengan menambahkan media buffer atau peredam seperti dasar pasir pada seluruh bangunan.

Disain Bangunan
Disain bangunan yang aman terhadap gempa adalah bentuk yang sederhana. Untuk rumah-rumah rekonstruksi atau rumah baru pasca gempa, bentuk bangunan memang sederhana. Hal ini baru bermasalah ketika proses penambahan bangunan dilakukan penghuni seiring dengan pertambahan kebutuhan mereka. Bangunan yang semula sederhana menjadi kompleks baik dari sisi bentuk ataupun layout (denah). Biarpun telah menggunakan material beton bertulang dengan tulangan sebesar “linggis” pun, bentuk bangunan rumit akan tetap rentan terhadap goncangan gempa. Belum lagi jika dilihat kualitas ‘sambungan’ antara bangunan lama dan baru.

Sistem Struktur
Sistem struktur yang benar tentu harus sesuai dengan sifat material yang digunakan. Struktur kayu prinsipnya fleksibel, kebalikan dengan system struktur beton bertulang yang harus kaku. Menggunakan material baru beton bertulang dengan anggapan atau cara yang lama (terhadap kayu) seharusnya tidak dilakukan. Sayangnya masyarakat terbukti banyak melakukan ini misalnya dengan mengganti kuda-kuda kayu dengan kuda-kuda beton persis dengan cara yang sama, padahal kedua sifat material tersebut berbeda. Kuda-kuda kayu seharusnya bebas bergerak dengan tumpuan fleksibel (roll dan sendi) sedangkan beton bertulang harus kaku, berhubungan mati dengan kolomnya. Atau juga dengan membentuk rangka beton yang seolah-olah dianggap kayu dengan bentuk kuda-kuda. Kasus tersebut justeru akan sangat berbahaya bagi penghuni karena rangka beton sangat berat dan mudah jatuh, jika dipasang dengan cara yang tidak benar.

Konstruksi
Ketepatan konstruksi juga menjadi faktor penting bagi keselamatan pengguna bangunan. Banyak kasus bangunan rumah beton betulang di Bantul yang tetap saja memakan korban karena lemahnya dinding terhadap kolom misalnya. Dinding bata yang berat akan mudah runtuh jika tidak dipasang dengan angkur yang cukup, atau dinding terlalu lebar (kolom praktis jarang).

Pelaksanaan
Proses konstruksi di lapangan juga dapat mempengaruhi keamanan bangunan walapun secara kasat mata bangunan menggunakan material yang bagus. Mulai dari proses pencampuran bahan hingga cara pemasangan akan sangat penting diperhatikan. Meskipun dengan campuran semen yang banyak, akan tetapi jika cara mengaduknya tidak rata, atau kurang air misalnya, beton akan lebih getas. Demikian pula dengan sambungan beton bertulang tanpa overlap dan tekukan tentu akan sangat rentan lepas. Jika semua aspek memenuhi tapi pelaksanaan di lapangan tidak diperhatikan, bangunan tetap dalam bahaya.

Pemilihan Material
Ketepatan material juga secara langsung mempengaruhi keselamatan bangunan dan penghuninya. Kembali ke salah satu kasus di atas misalnya, kuda-kuda kayu yang ringan tentu lebih diutamakan ketimbang kuda-kuda beton yang berat, walaupun secara awam menganggap ‘beton lebih kuat dari kayu’. Sebab jika terjadi goncangan, bagaimnapun benda yang berat berpotensi jatuh lebih besar mengikuti hukum Newton kedua F=MA. Apalagi jika desain struktur dan konstruksinya kurang benar.

Penggunaan Bangunan
Begitu juga dengan penggunaan bangunan. Penataan furniture walaupun tidak terlalu significant membebani struktur (seperti lampu gantung yang berat atau rak buku di dinding) akan tetap mempengaruhi kondisi saat gempa. Mungkin saja bangunan tetap berdiri namun lampu atau rak tersebut dapat jatuh menimpa penghuni. Demikian juga dengan penempatan lemari berat yang dapat ambruk sehingga menghambat penghuni. Semua ini akan mempengaruhi tingkat keamanan sebuah bangunan.

Kesimpulan
Banyak hal yang mesti diperhatikan untuk menjamin keselamatan bangunan dan penghuninya jika terjadi gempa. Anggapan-anggapan yang masih kurang benar terutama dengan penggunaan material dan system struktur masih perlu ditinjau lagi. Study lebih lanjut masih diperlukan untuk meyakinkan tingkat keamanan bangunan dan penghuninya terhadap gempa.
Bagaimana pendapat anda??? Salam….

Tidak ada komentar:

Posting Komentar